BOROBUDUR DI TINJAU DARI FALSAFAH, RELIGI DAN HASIL KARYA BUDAYA
Borobudur adalah nama sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Lokasi candi adalah kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Candi ini didirikan oleh para penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra.
Nama Borobudur
Banyak teori yang berusaha menjelaskan nama candi ini. Salah satunya menyatakan bahwa nama ini kemungkinan berasal dari kata Sambharabhudhara, yaitu artinya "gunung" (bhudara) di mana di lereng-lerengnya terletak teras-teras. Selain itu terdapat beberapa etimologi rakyat lainnya. Misalkan kata borobudur berasal dari ucapan "para Buddha" yang karena pergeseran bunyi menjadi borobudur. Penjelasan lain ialah bahwa nama ini berasal dari dua kata "bara" dan "beduhur". Kata bara konon berasal dari kata vihara, sementara ada pula penjelasan lain di mana bara berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya kompleks candi atau biara dan beduhur artinya ialah "tinggi", atau mengingatkan dalam bahasa Bali yang berarti "di atas". Jadi maksudnya ialah sebuah biara atau asrama yang berada di tanah tinggi.
Sejarawan J.G. de Casparis dalam disertasinya untuk mendapatkan gelar doktor pada 1950 berpendapat bahwa Borobudur adalah tempat pemujaan. Berdasarkan prasasti Karangtengah dan Kahulunan, Casparis memperkirakan, pendiri Borobudur adalah raja dari dinasti Syailendra bernama Samaratungga sekitar 824 M. Bangunan raksasa itu baru dapat diselesaikan pada masa putrinya, Ratu Pramudawardhani. Pembangunan Borobudur diperkirakan memakan waktu setengah abad.(Wikipedia Indonesia ;2007)
Struktur Borobudur
Candi Borobudur berbentuk punden berundak, yang terdiri dari enam tingkat berbentuk bujur sangkar, tiga tingkat berbentuk bundar melingkar dan sebuah stupa utama sebagai puncaknya. Selain itu tersebar di semua tingkat-tingkatannya beberapa stupa.
Borobudur yang bertingkat sepuluh menggambarkan secara jelas filsafat mazhab Mahayana. bagaikan sebuah kitab, Borobudur menggambarkan sepuluh tingkatan Bodhisattva yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi Buddha.
Bagian kaki Borobudur melambangkan Kamadhatu, yaitu dunia yang masih dikuasai oleh kama atau "nafsu rendah". Bagian ini sebagian besar tertutup oleh tumpukan batu yang diduga dibuat untuk memperkuat konstruksi candi. Pada bagian yang tertutup struktur tambahan ini terdapat 120 panel cerita Kammawibhangga. Sebagian kecil struktur tambahan itu disisihkan sehingga orang masih dapat melihat relief pada bagian ini.
Empat lantai dengan dinding berelief di atasnya oleh para ahli dinamakan Rupadhatu. Lantainya berbentuk persegi. Rupadhatu adalah dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk. Tingkatan ini melambangkan alam antara yakni, antara alam bawah dan alam atas. Pada bagian Rupadhatu ini patung-patung Buddha terdapat pada ceruk-ceruk dinding di atas ballustrade atau selasar.
Mulai lantai kelima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief. Tingkatan ini dinamakan Arupadhatu (yang berarti tidak berupa atau tidak berwujud). Denah lantai berbentuk lingkaran. Tingkatan ini melambangkan alam atas, di mana manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai nirwana. Patung-patung Buddha ditempatkan di dalam stupa yang ditutup berlubang-lubang seperti dalam kurungan. Dari luar patung-patung itu masih tampak samar-samar.
Tingkatan tertinggi yang menggambarkan ketiadaan wujud dilambangkan berupa stupa yang terbesar dan tertinggi. Stupa digambarkan polos tanpa lubang-lubang. Di dalam stupa terbesar ini, diduga dulu ada sebuah patung penggambaran Adibuddha. Patung yang diduga berasal dari stupa terbesar ini kini diletakkan dalam sebuah museum arkeologi, beberapa ratus meter dari candi Borobudur. Patung ini dikenal dengan nama unfinished Buddha.
Di masa lalu, beberapa patung Buddha bersama dengan 30 batu dengan relief, dua patung singa, beberapa batu berbentuk kala, tangga dan gerbang dikirimkan kepada Raja Thailand, Chulalongkorn yang mengunjungi Hindia Belanda (kini Indonesia) pada tahun 1896 sebagai hadiah dari pemerintah Hindia Belanda ketika itu.
Borobudur tidak memiliki ruang-ruang pemujaan seperti candi-candi lain. Yang ada ialah lorong-lorong panjang yang merupakan jalan sempit. Lorong-lorong dibatasi dinding mengelilingi candi tingkat demi tingkat. Di lorong-lorong inilah umat Buddha diperkirakan melakukan upacara berjalan kaki mengelilingi candi ke arah kanan. Bentuk bangunan tanpa ruangan dan struktur bertingkat-tingkat ini diduga merupakan perkembangan dari bentuk punden berundak, yang merupakan bentuk arsitektur asli dari masa prasejarah Indonesia.
Struktur Borobudur bila dilihat dari atas membentuk struktur mandala.
Relief
Di setiap tingkatan dipahat relief-relief pada dinding candi. Relief-relief ini dibaca sesuai arah jarum jam atau disebut mapradaksina dalam bahasa Jawa Kuna yang berasal dari bahasa Sansekerta daksina yang artinya ialah timur. Relief-relief ini bermacam-macam isi ceritanya, antara lain ada relief-relief tentang wiracarita Ramayana. Ada pula relief-relief cerita jātaka.
Pembacaan cerita-cerita relief ini senantiasa dimulai, dan berakhir pada pintu gerbang sisi timur disetiap tingkatnya, mulainya disebelah kiri dan berakhir disebelah kanan pintu gerbang itu. Maka secara nyata bahwa sebelah timur adalah tangga naik yang sesungguhnya (utama) dan menuju puncak candi, artinya bahwa candi menghadap ke timur meskipun sisi-sisi lainnya serupa benar.
Adapun susunan dan pembagian relief cerita pada dinding dan langkan candi , adalah sbb :
| Bagan Relief |
| Tingkat | Posisi/letak | Cerita Relief | Jumlah Pigura |
| Kaki candi asli | ----- | Karmawibhangga | 160 pigura |
| Tingkat I | - dinding | a. Latitawistara | 120 pigura |
| ------- | - ----- | b. jataka/awadana | 120 pigura |
| ------- | - langkan | a. jataka/awadana | 372 pigura |
| ------- | - ----- | b. jataka/awadana | 128 pigura |
| Tingkat II | - dinding | Gandawyuha | 128 pigura |
| -------- | - langkan | jataka/awadana | 100 pigura |
| Tingkat III | - dinding | Gandawyuha | 88 pigura |
| -------- | - langkan | Gandawyuha | 88 pigura |
| Tingkat IV | - dinding | Gandawyuha | 84 pigura |
| -------- | - langkan | Gandawyuha | 72 pigura |
| -------- | Jumlah | -------- | 1460 pigura |
Secara runtutan , maka cerita pada relief candi secara ringkat bermakna sebagai berikut :
Salah satu ukiran Karmawibhangga di dinding candi Borobudur (lantai 0 sudut tenggara)
Sesuai dengan makna simbolis pada kaki candi, relief yang menghiasi dinding batur yang terselubung tersebut, menggambarkan hukum karma. Deretan relief tersebut bukan merupakan cerita seri ( serial ), tetapi pada setiap pigura menggambarkan suatu cerita yang mempunyai korelasi sebab akibat. Relief tersebut tidak saja memberi gambaran terhadap perbuatan tercela manusia disertai dengan hukuman yang akan diperolehnya, tetapi juga perbuatan baik manusia dan pahala. Secara keseluruhan merupakan penggambaran kehidupan manusia dalam lingkaran lahir - hidup - mati (samsara) yang tidak pernah berakhir, dan oleh agama Buddha rantai tersebutlah yang akan diakhiri untuk menuju kesempurnaan.
Merupakan penggambaran riwayat Sang Buddha dalam deretan relief-relief (tetapi bukan merupakan riwayat yang lengkap ) yang dimulai dari turunnya Sang Buddha dari sorga Tusita, dan berakhir dengan wejangan pertama di Taman Rusa dekat kota Banaras. Relief ini berderet dari tangga pada sisi sebelah selatan, setelah melampui deretan relief sebanyak 27 pigura yang dimulai dari tangga sisi timur. Ke 27 pigura tersebut menggambarkan kesibukan, baik di sorga maupun di dunia, sebagai persiapan untuk menyambut hadirnya penjelmaan terakhir Sang Bodhisattwa selaku calon Buddha. Relief tersebut menggambarkan lahirnya Sang Buddha di arcapada ini sebagai Pangeran Siddhartha, putra Raja Suddhodana dan Permaisuri Maya dari Negeri Kapilawastu. Relief tersebut berjumlah 120 pigura, yang berakhir dengan wejangan pertama, yang secara simbolis dinyatakan sebagai Pemutaran Roda Dharma, ajaran Sang Buddha di sebut dharma yang juga berarti "hukum" ,sedangkan dharma dilambangkan sebagai roda.
Jataka dan Awadana
Jataka adalah cerita tentang Sang Buddha sebelum dilahirkan sebagai Pangeran Siddharta. Isinya merupakan pokok penonjolan perbuatan baik, yang membedakan Sang Bodhisattwa dari mahluk lain manapun juga. Sesungguhnya, pengumpulan jasa / perbuatan baik merupakan tahapan persiapan dalam usaha menuju keringkat ke buddha an.
Sedangkan Awadana, pada dasarnya hampir sama dengan Jataka akan tetapi pelakunya bukan Sang Bodhisattwa, melainkan orang lain dan ceritanya dihimpun dalam kitab Diwyawadana yang berarti perbuatan mulia kedewaan, dan kitab Awadanasataka atau seratus cerita Awadana. Pada relief candi Borobudur jataka dan awadana, diperlakukan sama, artinya keduanya terdapat dalam deretan yang sama tanpa dibedakan. Himpunan yang paling terkenal dari kehidupan Sang Bodhisattwa adalah Jatakamala atau untaian cerita Jataka, karya penyair Aryasura dan jang hidup dalam abad ke-4 Masehi.
Gandawyuha
Merupakan deretan relief menghiasi dinding lorong ke 2,adalah cerita Sudhana yang berkelana tanpa mengenal lelah dalam usahanya mencari Pengetahuan Tertinggi tentang Kebenaran Sejati oleh Sudhana. Penggambarannya dalam 460 pigura didasarkan pada kitab suci Buddha Mahayana yang berjudul Gandawyuha, dan untuk bagian penutupnya berdasarkan cerita kitab lainnya yaitu Bhadracari.
Tahapan pembangunan Borobudur
· Tahap pertama
Masa pembangunan Borobudur tidak diketahui pasti (diperkirakan antara 750 dan 850 M). Pada awalnya dibangun tata susun bertingkat. Sepertinya dirancang sebagai piramida berundak. tetapi kemudian diubah. Sebagai bukti ada tata susun yang dibongkar.
· Tahap kedua
Pondasi Borobudur diperlebar, ditambah dengan dua undak persegi dan satu undak lingkaran yang langsung diberikan stupa induk besar.
· Tahap ketiga
Undak atas lingkaran dengan stupa induk besar dibongkar dan dihilangkan dan diganti tiga undak lingkaran. Stupa-stupa dibangun pada puncak undak-undak ini dengan satu stupa besar di tengahnya.
· Tahap keempat
Ada perubahan kecil seperti pembuatan relief perubahan tangga dan lengkung atas pintu. ( Wikipedia Ensiklopedia Indonesia)
Yantra dan Mandala pada Candi Borobudur
Merujuk pada judul tugas ini, pada uraian di bawah ini adalah penjelasan tentang Candi Borobudur di tinjau dari falsafah dan religi.
Kata yantra berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti alat atau sarana; dan secara lebih khusus digunakan untuk menyebut alat yang digunakan oleh para yogi atau brahmana untuk bermeditasi. Dalam beberapa hal, yantra juga dianggap sebagai wadah atau tempat bagi istana dewata. Secara lebih spesifik lagi, kata yantra yang berasal dari akar kata “yam” juga berarti mendukung, menopang, atau menyokong kekuatan-kekuatan yang melekat pada suatu unsur, objek, atau konsep. Oleh karena sifatnya itu, maka pada hakekatnya yantra itu memiliki tiga unsur utama, yaitu unsur bentuk (akriti-rupa), unsur fungsi (kriya-rupa), dan unsur kekuatan (çakti-rupa). Di sisi lain, oleh karena yantra juga dianggap sebagai tempat kedudukan atau wadah bagi Istadewata maka yantra itu juga merupakan wujud pengganti dari dewa utama yang tidak digambarkan dalam bentuknya secara antropomorfis.
Bangunan Candi Borobudur yang memiliki 9 teras atau tingkatan merupakan salah satu contoh Çri-Yantra. Bangunan ini didirikan pada pondasi persegi dengan empat pintu masuk. Masuk (gapura pintu masuk) serta lima tembok keliling di masing-masing terasnya serta tiga teras lagi yang melingkar dan dipenuhi dengan arca-arca Buddha. Akhirnya pada tingkat yang kesembilan yang merupakan mahkotanya memiliki stupa induk yang merupakan kekuasaan dari Buddha tertinggi. Çri Yantra sendiri pada dasarnya memiliki tiga dimensi, sebagaimana halnya dengan gunung yang berteras-teras. Baik antara Yantra dan Stupa memiliki kesamaan skema kosmologis, yaitu menggambarkan dunia gunung mistis, yaitu Gunung Meru. Untuk memahami secara utuh gambaran tentang Borobudur maka harus dipahami melalui Çri Yantra.
Teras-teras yang ada di Borobudur itu sendiri juga dapat dianggap sebagai tingkatan-tingkatan perjalanan jiwa dalam mencapai kesempurnaan.
Di dalam stupa seolah-olah digambarkan perjalanan dimulai dari bawah dengan keempat pintunya, selanjutnya makin naik melingkar menyerupai spiral hingga mencapai tingkatan yang kosong, seolah-olah berkembang dari dunia keberadaan menuju dunia jiwa. Hal ini sangat sesuai dengan perjalanan sadhaka dari dunia material menuju dunia spiritual selama menyelenggarakan meditasi Çri Yantra.
Dalam kaitannya dengan arsitektur, suatu yantra bukanlah merupakan denah (ground-plan) untuk suatu candi, melainkan skema dasar tentang denah-denah suci dalam pembangunan suatu candi yang harus dipenuhi. Dasar anggapan ini terutama karena dimensi serta ukuran arsitektur kuil atau candi dianggap sebagai hal yang sifatnya spesifik dan oleh karenanya maka diperlukan aturan-aturan yang sifatnya ritual dalam rangka menyusun kerangka dasarnya.
Oleh karena sifatnya yang sakral itu maka pembangunan suatu candi atau kuil harus benar-benar mengikuti aturan yang ditentukan dalam agama dan tidak boleh diubah secara semena-mena atau sekehendak hati pembuatnya.
Secara sederhana kata mandala dapat dipahami sebagai konfigurasi kosmis yang menggambarkan ploting kedudukan dewa-dewa secara hierarkis. Pada mulanya, konfigurasi bentuk mandala itu berkembang dari bentuk persegi yang mewakili keempat penjuru mata angin, selanjutnya berkembang menjadi bentuk segi delapan, dua belas, tigapuluh dua, dan seterusnya, sehingga membentuk diagram-diagram tertentu. Dari sejumlah besar titik sudut itu maka bagian tengah merupakan bagian yang paling penting karena menjadi tempat kedudukan arca utama atau simbol lain yang menggantikan arca itu. Titik-titik di bagian luarnya secara melingkar dan mengelilingi titik tengah tadi merupakan tempat kedudukan dewa-dewa lain yang lebih rendah.
Secara sistematis dan hierarkis, struktur dan hubungan antara dewa yang satu dengan yang lain, baik yang setingkat maupun yang tidak setingkat, baik secara vertikal maupun horisontal, secara keseluruhan saling terkait satu sama lain. Secara integral, konfigurasi dari dewa-dewa itu dapat digunakan sebagai sarana untuk meditasi dan di dalam ritual dapat berfungsi sebagai wadah bagi dewa-dewa itu.
Untuk membedakan antara yantra dan mandala itu sendiri dapat dilihat melalui penggambaran dewa-dewa atau simbol-simbol tentang dewa itu. Di dalam mandala, umumnya, dewa-dewa itu digambarkan dalam wujud yang sangat raya dan lengkap hingga ke bagian-bagian detailnya.
Sesuai dengan fungsinya di atas, yaitu sebagai sarana meditasi atau sebagai wadah dari dewa-dewa maka suatu mandala setidak-tidaknya dapat dibedakan dalam beberapa tipe bentuk apakah ia berfungsi sementara ataukah ia berfungsi permanen.
Suatu mandala dapat diwujudkan dalam bentuk gambar atau lukisan, dapat terbuat dari bahan-bahan yang bersifat plastis, seperti pasir, nasi, atau mentega. Namun, juga dapat diwujudkan dalam bentuk komposisi sejumlah arca perunggu dan dalam bentuk suatu bangunan. Pada awal mulanya, kata mandala hanya berasosiasi dengan bangunan suci atau tempat suci yang berkembang pada zaman Weda. Namun, dalam perkembangannya kemudian kata mandala itu berkembang dan digunakan untuk menunjuk bentuk, gejala, ataupun aktivitas yang cenderung berpola melingkar.
Kata-kata seperti candramandala (lingkaran orbit bulan), suryamandala (lingkaran orbit matahari), dan mandala-nrtya (menari melingkar), mandala-nyasa (gambar lingkaran), mandalasana (duduk melingkar), serta mendalanabhi (pusat lingkaran) sering dijumpai dalam literatur Weda. Secara keseluruhan, kata-kata itu menyimbolkan kosmos, keutuhan, atau integrasi bagian secara keseluruhan.
Dalam perkembangan berikutnya, kata mandala yang semula berarti lingkaran kemudian mengalami adaptasi perkembangan bentuk lebih lanjut menjadi persegi, persegi panjang, segitiga, dan sebagainya. Namun, dari bentuk-bentuk itu yang dianggap paling penting adalah bagian yang paling tengah karena dianggap memiliki inti kekuatan mistis yang mampu memberikan atau menyebarkan kekuatan itu ke seluruh penjuru mata angin.
Berdasarkan uraian tentang bentuk dan perkembangannya itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa secara umum kata mandala setidak-tidaknya memiliki sejumlah pengertian:
1. Sesuatu yang bersifat bulat, seperti bulan, matahari, nampan, atau roda.
2. Sebuah distrik, provinsi, atau negara; atau secara ringkas merupakan suatu lingkaran wilayah kekuasaan dengan seluruh bawahannya yang terlibat dalam hubungan politik dan diplomatik.
3. Kumpulan orang banyak, masyarakat, dan kelompok.
4. Suatu kosmogram yang digunakan dalam agama Buddha Tantris untuk meditasi dan atau meditasi baik dalam bentuk lukisan maupun sesuatu yang memiliki bentuk tiga dimensi, baik yang berbentuk persegi maupun lingkaran dan secara hierarkis posisi di bagian tengah merupakan tempat yang paling suci.
Secara konseptual berdasarkan bentuk dan fungsinya, suatu mandala juga dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, a.l.:
1. Mahadatumandala (representasi piktorial dewa-dewa)
2. Samayamandala (representasi tentang dewa-dewa yang hanya diwujudkan dalam bentuk atributnya)
3. Bija-mandala (gambaran dewa-dewa yang hanya diwujudkan dalam bentuk huruf-huruf bija atau sekumpulan tulisan-tulisan nagari)
4. Karma-mandala (representasi yang menggambarkan dewa-dewa dalam bentuk berbagai sikap atau gerak dan diwujudkan dalam berbagai bentuk mudra atau simbol).
Seperti uraian di atas maka Candi Borobudur adalah bangunan yang mencerminkan bentuk mandala yang termasyur selain Candi Sewu.
Menurut penelitian Lokesh Chandra, Borobudur merupakan gambaran atau bentuk dari Vajradhatu Mandala yang berkembang dalam aliran Yoga Tantra dan bangunan ini merupakan bagian yang integral dari tiga serangkai, yaitu Candi Mendut dan Candi Pawon. ( Shadows of Prambanan )
Arsitektur Candi Borobudur sebagai Hasil Karya dan Bagan Kebudayaan
Beberapa batasan tentang arsitektur di antaranya:
1. Arsitektur adalah pemikiran yang matang dalam pembentukan ruang. Pembaharuan arsitektur secara menerus adalah disebabkan perubahan konsep ruang.
2. Arsitektur adalah penataan beberapa massa yang dengan hebat, tepat dan baik sekali digabungkan bersama dalam cahaya.
3. Bentuk dan ruang adalah bukan. Arsitektur terjadi hanya bila seseorang sedang menikmati/mengalami bentuk dan ruang tersebut.
4. Arsitektur adalah:
a. Seni atau ilmu bangunan, termasuk perencanaan, konstruksi dan penyelesaian dekoratif;
b. Sifat karakter atau langgam bangunan;
c. Kegiatan atau proses membangun bangunan;
d. Bangunan-bangunan; dan
e. Sekelompok bangunan.
Kalau kita ingin kembali pada kaidah semula, berarti arsitektur akan sealu memasalahkan konsep “ruang” dan “massa” bangunan, karena bagaimanapun juga keduanya akan selalu berkaitan. Meskipun pada kenyataannya kedua konsep tersebut selalu menjadi pertentangan para arsitek waktu itu. Pemikiran ruang pun sudah ada sejak filsuf Lao Tzu dan Plato. Lao Tzu bertitik tolak dari dasar filsafat TAO (The way of becoming) menekankan, “yang tiada itu, adalah yang utama dalam membuat sesuatu bentuk nyata”, sedangkan Plato mendasarkan filsafatnya pada kenyataan bahwa “hanya sesuatu yang dapat diraba yang dianggap nyata”.
Kalau kita simak ini hanyalah merupakan perbedaan pendapat antara filsafat Timur dan Barat, hanya untuk arsitektur Barat banyak ditekankan pada tata massa bangunannya, sedangkan arsitektur Timur banyak ditekankan pada tata ruangnya. Dari sejarah filsafatnyapun sudah nampak jelas perbedaan sikap terhadap alam. Barat melawan atau menguasai alam sedang Timur adalah kesatuan dan harmoni dengan alam. Hal inipun juga didukung oleh pendapat To Thi Anh yang menyatakan bahwa, “Seni lukis dan arsitektur dapat berbicara lantang mengenai para Taois akan harmoni dengan alam. Kuil-kuil, rumah tidak didirikan terpisah dari pemandangan alam. Mereka menempel dikaki bukit, di bawah pohon, menyatu dengan lingkungan. Beberapa menara pagoda dengan atapnya yang melengkung sangat harmonis dengan alam sekitar”. Kita dapat mengatakan bahwa wadah arsitekturpun telah dipikirkan sebelum mereka membangun, hakekat alam diceriterakan sebagai manifestasi dari kehidupan manusia. Arsitektur merupakan satu metafora yang di pandang sebagai mikrokosmos, sedangkan dunia fisik mencerminkan dunia keabadian.(Antariksa :Solid I;11;1987)
Arsitektur membuat makna-makna yang nyata dalam penyelesaian ungkapannya, baik dari dalam keluar maupun dari luar ke dalam. Berpedoman pada aturan-aturan yang tersusun sebagai elemen-elemen, yang ditempuh di antara bumi dan langit memberikan porsi tersendiri untuk mengungkapkan dirinya. Arsitektur selalu menampilkan aspek-aspek proporsi, keindahan, massa, ruang, warna, bidang, garis, kedalaman, kesatuan, dan sebagainya dalam pengembangannya. Kalau kita memahami seluruh aspek-aspeknya, pastilah arsitektur akan menyinggung seni bangunan karena pada waktu itu arsitektur masih dianggap sebagai seni. Tetapi yang terpenting dari hal tersebut adalah, ke arah mana dan ke mana semua seni bangunan dikembangkan. Dalam arti yang luas arsitektur memang dapat dilihat secara demikian, tetapi arsitektur tidak dapat dimengerti secara baik tanpa kaitan dengan sejarah. Sejarah merupakan unsur dasar bagi arsitektur, bukan sebagai kekuatan fisik bangunan yang menakutkan, namun sebagai satu unsur yang sangat dinamis yang dapat mempengaruhi dan membentuk kelestarian lingkungan. Sepanjang sejarah arsitektur selalu merefleksikan wujud fisiknya yang dipakukan oleh umus-rumus ilmu pengetahuan dalam perjalanannya.
Pada dasarnya arsitektur (bangunan) mempunyai fungsi utama dan sekunder. Bukan berarti perbedaan ini mempunyai arti yang besar di dalam bangunan tersebut, tetapi kedua hal itu harus merupakan satu keseimbangan. Fungsi banyak memegang peran di dalam perkembangan arsitektur, oleh karena penilaian arsitektural sering dan banyak dilakukan melalui fungsi arsitekturalnya. Namun arsitektur sebaiknya tidak hanya dapat memberikan konotasi sesuatu ideologi fungsi tertentu, tetapi juga harus dapat memberikan konotasi yang lainnya. Di dalam perjalanan kedua fungsi ini dapat mengalami penambahan maupun pengurangan, dan hal itu memang biasa dalam perkembangan satu bentuk pada umumnya. Sebagai contoh suatu perubahan fungsi yang disebabkan pergantian generasi ke generasi berikutnya, maupun karena suatu perjalanan sejarahnya dapat dilihat sebagai berikut:
1. a. Fungsi utama hilang. b. Fungsi sekunder tetap.
Contohnya: peninggalan beberapa candi, fungsi utamanya sebagai tempat ibadah sudah hilang tetapi konotasi simbolik dari candi tersebut masih ada.
2. a. Fungsi utama tetap. b. Fungsi sekunder hilang.
Contohnya: lampu antik, tidak lagi digunakan sebagai lampu minyak tetapi sebagai unsur estetik dalam ruang.
3. a. Fungsi utama hilang. b. Fungsi sekunder hilang.
Contohnya: piramida, tidak lagi menjadi makam. Simbol astrologi dan geometrik sebagai konotasi efektifitas Mesir kuno sudah hilang tapi diganti dengan fungsi obyek turis.
Jika hal tersebut di atas kita lanjutkan lagi maka masih banyak kemungkinan lagi yang dapat ditemukan. Begitupula mengenai konotasi akan dapat membuka berbagai penilaian mengenai arsitektur.
Di bawah ini, dijelaskan oleh Ir. Antariksa, M. Eng., Phd, dalam Arsitektur dan Kebudayaannya, Sebuah Telaah Filosofis, bahwa berpangkal pada teori informasi Van Peursen melihat kebudayaan sebagai siasat manusia menghadapi hari depan, maka dapat berarti juga bahwa kebudayaan merupakan ceritera tentang perubahan-perubahan riwayat manusia yang selalu memberi wujud baru kepada pola-pola kebudayaan yang sudah ada. Irama perjalanan kehidupan kita yang makin cepat tentu saja mempengaruhi perubahan tersebut, satu kebudayaan yang dapat menggambarkan perkembangan dari jaman dulu ke hari depan. Dengan melukiskan perkembangan kebudayaan dapat diperoleh keterangan mengapa kebudayaan mempunyai wujud seperti sekarang ini. Koentjaraningrat memberikan batasan tentang wujud kebudayaan sebagai berikut:
1. Wujud kebudayaan sebagai satu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya;
2. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitet kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat; dan
3. Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.
Maka arsitektur dapat diletakkan pada wujud kebudayaan sebagai benda fisik hasil karya manusia. Meskipun sebenarnya kalau kita urutkan arsitektur akan mencakup ketiga wujud kebudayaan tersebut di atas. Pada bagian lain Herman Sorgel (1918), mengimplikasikan konsep pemikiran kebudayaan pada transformasi fisik perencanaan arsitektur, dan mencoba membedakan kebudayaan sebagai berikut:
1. Filosofi atau filsafat dihubungkan dengan jalan pikiran.
2. Kepercayaan yang di hubungkan dengan jiwa
3. Seni, dihubungkan dengan perasaan.
Arsitektur sebagai salah satu hasil karya budaya, dapat dijadikan petunjuk bagi perkembangan budaya suatu bangsa. Maka kebudayaan menyangkut sekelompok manusia yang memiliki susunan nilai-nilai dan kepercayaan tentang gambaran suatu dunia, yang mewujudkan sesuatu yang ideal. Parmono Atmadi mengatakan, perkembangan arsitektur masa lampau yang tidak ditemukan keterangannya melalui tulisan yang otentik, hanya dapat ditelusuri melalui penelitian. Apakah itu berupa pengaruh kepercayaan, budaya ataupun politik, dan memang kalau kita lihat perkembangan arsitektur pada umumnya tercermin pada bangunan-bangunan peninggalan. Hal ini pun dapat terlihat pada bangunan candi Borobudur (Budha) mempunyai ciri atau karakter sendiri. Mungkin kalau kita simak lagi lebih dalam akan kembali pada konsep massa (candi) yang berkembang sesuai adat, kebudayaan serta kondisi lingkungan pada waktu itu. Konon menurut ceritera arsitek dari Borobudur adalah Gunadharma, kini dia beristirahat dipuncak pegunungan Menoreh sambil mengawasi candi ciptaannya dari abad ke abad. Sebagai candi Budha, Borobudur mempunyai tiga lingkungan fisik yang sesuai dengan pencerminan alam semesta, yaitu Kamadhatu: tempat manusia masih terbelenggu hawa nafsu (keserakahan) duniawi; Rupadhatu: tempat manusia telah membinasakan keinginannya akan tetapi masih terikat oleh faham (pengertian) dari dunia berwujud; Arupadhatu: tempat manusia setelah memperoleh kesempurnaan, kemudian dibebaskan sama sekali dari segala ikatan keduniawian.
Tiga lapisan candi ini dapat di identikkan juga dengan bunga teratai, selain dikenal sebagai cara duduk meditatif Sidharta Budha Gautama-disebut posisi padma- juga merupakan perlambang ajaran Budha. Hasil temuan dari Jogya Heritage Society, yang dikemukakan oleh ketuanya Laretna T. Adhisakti bahwa ketika kita melihat Borobudur dari Tuk Setumbu yang terletak di sisi barat Candi Borobudur saat matahari terbit, kita akan melihat Candi Borobudur ibarat teratai dengan awan dan kabut yang mengelilinginya laksana air, sedangkan Gunung Merapi dan Merbabu menjadi latarnya.
Teratai adalah bunga yang memiliki akar di lumpur melambangkan fase fase kehidupan materialistis, berikutnya ada di air merujuk pada pengalaman hidup, dan kelopak dan mahkota bunga diatas permukaan air menyongsong matahari menggambarkan jiwa yang tercerahkan.
Amiluhur Soeroso, dosen geografi pascasarjana UGM, mendukung pendapat Laretna. Menurut dia, pembangunan Borobudur menggabungkan lanskap alam dan budaya. "Borobudur yang dikelilingi delapan gunung merupakan satu kesatuan kosmis yang berpusat di bukit Borobudur," katanya. Kesembilan gunung itu menjadi angka istimewa bermakna filosofis tinggi: setelah hitungan sembilan, kembali ke nol. "Jadi, sembilan ini sebagai jalan menuju titik nol, yaitu pencerahan," tuturnya.
Inilah suatu pencerminan “harmonic proportion” dari nilai religi dalam suatu wujud fisik yang ditampilkan secara sakral dan mempunyai nilai filosofis cukup dalam, yang meungkin mempunyai daya magis tersendiri.
Inilah suatu mata rantai arsitektur yang sangat panjang ditilik dari falsafah, religi dan hasil karya budaya yang merupakan peradaban suatu bangsa. Seperti hasil kebudayaan dalam bentuk lain yang senantiasa meniti garis sejarahnya sendiri, maka arsitektur pun akan demikian. Pada sisi yang lain suatu nilai sejarah yang patut untuk kita ketahui adalah “Visvakarman”, merupakan warisan utama dari sebuah kebudayaan yang berasal dari India, tetapi nilai-nili identitas sebagai simbol-simbol arsitektur masih nampak terlihat. Visvakarman merupakan arsitek dari alam semesta, mereka terdiri dari empat kelompok, antara lain: (1) Staphati, ahli bangunan; (2) Sutra-grahin, tukang gambar; (3) Vardhaki, perencana; dan (4) Tashaka, tukang kayu. Arsitektur di sana diatur oleh Vasthu Purusha Mandala, di mana Mandala mengarahkan bentuk, Purusha memasalahkan insan dan, Vasthu melihat berbagai aspek masalah yang tersangkut dalam bangunan. Bali mempunyai Hasta Kosala Kosali, sedangkan masyarakat Bugis atau Makasar menamakan para arsitek sebagai Panrita Balla, di sini arsitek didudukkan sebagai pendeta pada peresmian sebuah rumah tradisional. Pada hakekatnya pembagian fungsi sudah dicanangkan waktu itu dan sudah digariskan sejak awal untuk dikagumi oleh pihak yang mengerti, karena arsitektur dan unsur-unsurnya selalu berkembang. Berkembang dalam perencanaan dan perancangan demikian juga pada fungsinya, dan akan mencakup bidang sosial-ekonomi, kebudayaan-seni dan kerekayasaan.
Seperti uraian di atas bahwa peradaban sering dikenali dari pencapaian arsitekturnya. Borobudur adalah salah satunya. Sebab candi itu sudah memenuhi syarat Vitruvius, arsitek Romawi kuno pada abad ke-20 SM, tentang sebuah mahakarya arsitektur ; tak lekang dimakan zaman, punya fungsi dan indah.
Kesimpulan :
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Borobudur, sarat dengan makna, mahakarya seni bangunan masa kebudayaan Budha yang mengungkap tentang kesatuan manusia dalam sebuah tatanan hidup. Borobudur harus dipahami sebagai lanskap budaya bukan sekedar dari bentuk fisiknya saja.
DAFTAR PUSTAKA
Antariksa, Ir, M. Eng, Phd. (1987). Arsitektur dan Kebudayaannya. Sebuah Telaah Filosofi; Solid 1.
CN, Heru. LN, Indayanie. (2007). Borobudur, Teratai di Tengah Danau; Tempo Jakarta.
Dumarclay, Jacques. (1990). An Architecture of The Universe; Borobudur Prayer in the Stone, Archipelago Press, Singapore.
Ensiklopedi Wikipedia. (). Borobudur; Wikipedia Indonesia.
Grolier International (2002). Agama : Indonesia Heritage : Buku Antar Bangsa. Jakarta.
Grolier International (2002). Arsitektur : Indonesia Heritage : Buku Antar Bangsa. Jakarta.
Grolier International (2002). Seni Rupa : Indonesia Heritage : Buku Antar Bangsa. Jakarta.
Grolier International. (2002). Sejarah Awal; Indonesia Heritage : Buku Antar Bangsa. Jakarta.
Holt, Claire. (2000). Melacak Jejak Perkembangan Seni di Indonesia; Ithaca New York; Cornel University Press.
Kaelan. (1959). Petunjuk Candi Mendut, Pawon, Borobudur; Jawatan Kebudayaan Cabang Bagian Bahasa; Dep. P.P dan K. Yogyakarta.
Moertjipto, Drs & Prasetyo, Bambang, Drs. (1993). Borobudur, Pawon dan Mendut. Kanisius. Yogyakarta.
Soeroso. (1998/1999). Jantra dan Mandala dalam Arsitektur Candi; Berhala Arkeologi Sangkhakala, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Medan.