Halaman

Banner

Banner
Promosi Website

Tips and Trik Interview

HEY....
Akhirnya dimulai kembali aktivitas lama yang bisa dibilang sebagai "hobby" saya, setelah hampir 4 tahun tidak eksis di dunia pertulisan, hehehehehe...
Posting pertama pada "moment" ini, ada beberapa tips dan trik saat kita wawancara lamaran pekerjaan. Bukan dari Saya sih, sumber data terpercaya, jadi mungkin bisa dipraktekin.
Ada beberapa pertanyaan yang biasa ditanyakan saat kita wawancara untuk melapamar pekerjaan di sebuah perusahaan. Bisa dibilang, pertanyaan ini "menjebak".
1. Berapa gaji yang Anda minta?
Jawab: Sebutkan gaji yang besarnya realistis. Lihat mata pewawancara, sebutkan jumlah, dan berhentilah bicara. Jangan bohong tentang gaji yang Anda terima di kantor sebelumnya, bila Anda sudah bekerja. Bila Anda merasa bahwa gaji Anda di kantor yang sekarang terlalu kecil, berikan penjelasan.
2. Apa kelebihan utama Anda?
Jawab: Pilih potensi Anda yang relevan dengan bidang pekerjaan yang Anda lamar. Hindari respons yang generik seperti pengakuan bahwa Anda pekerja keras. Lebih baik, berikan respons berupa, “Saya selalu diperbudak daftar pekerjaan yang saya buat sendiri. Sebab, saya tidak mau pulang sebelum pekerjaan di kantor beres semua.”
3. Apa kekurangan Anda yang paling jelas?
Jawab: Jangan bilang Anda seorang perfeksionis (menunjukkan bahwa Anda sombong). Lebih baik, jujur saja dan sebutkan kelemahan yang kongkret. Misalnya, Anda lemah menghitung di luar kepala, dan karenanya Anda mengatasinya dengan membawa kalkulator. Tapi, kemudian, susul dengan kelebihan Anda.
4. Di mana Anda melihat diri Anda lima tahun lagi?
Jawab: Gambarkan posisi yang realistis. Kira-kira dua-tiga posisi di atas posisi yang Anda lamar sekarang. Jangan sertakan cita-cita yang tak ada hubungannya dengan lamaran pekerjaan Anda, misalnya, ingin jadi bintang sinetron atau jadi novelis. Sebab, Anda akan tampak tidak fokus.
5. Mengapa Anda ingin meninggalkan kantor yang lama?
Jawab: Jangan sampai mengemukakan hal yang negatif. Kalau kenyataannya begitu, ucapkan dalam kalimat ‘positif’, misalnya bahwa Anda tidak melihat ada ‘ruang’ di mana Anda bisa berkembang. Lalu, jelaskan mengapa Anda menganggap bahwa pekerjaan di kantor baru ini memberi kesempatan yang lebih baik.
6. Adakah contoh kegagalan Anda?
Jawab: Ungkapkan kegagalan yang pernah Anda alami, tapi yang sudah terpenuhi solusinya. Supaya, pewawancara tahu bahwa Anda punya usaha untuk mengatasi masalah
7. Apakah Anda punya pertanyaan?
Jawab: Berikan paling sedikit dua pertanyaan yang terfokus pada kantor baru ini. Misalnya, Anda bertanya apakah kantor ini sudah punya website. Atau, bisa juga Anda mempertanyakan kehadiran CEO yang Anda tahu baru saja diangkat – apakah membuat kinerja perusahaan semakin baik, dan semacamnya. Jangan bertanya tentang kepentingan Anda sendiri, misalnya, apakah karir Anda akan berkembang di sana.

BERWIRAUSAHA CARA RASULULLAH SAW

Hal yang sangat patut direnungkan oleh umat Islam, dan ini menjadi kendala bagi kemajuan umat adalah faktor leadership (kepemimpinan) dan kemampuan manajemen. Dampaknya pun jelas, dengan dua titik lemah ini potensi yang banyak tidak terbaca, tidak tergali secara maksimal, dan tidak bisa dikembangkan menjadi sebuah sinergi yang memiliki dampak besar bagi kemajuan umat.
Kelemahan leadership dan manajerial ini ternyata dapat kita telusuri dengan mengamati bagaimana pemahaman umat tentang sifat Rasulullah SAW. Diantara titik-titik yang kurang tersentuh secara maksimal adalah bagaimana umat Islam mempelajari masa muda Rasulullah SAW sebelum menjadi nabi.
Dari beberapa literatur yang didapat, betapa jiwa entrepreneurship Rasulullah di bidang wirausaha begitu mendominasi, sehingga beliau berkembang menjadi seorang pemimpin yang memiliki jiwa entrepreneur, dan keterampilan manajemen yang baik untuk mengelola sebuah dakwah, sebuah sistem yang bertata nilai kemuliaan Al Islam.
Pada waktu Rasulullah masih kecil, beliau sudah mempunyai sebuah proyek untuk menjaga kehormatan harga dirinya agar tidak menjadi beban bagi kehidupan ekonomi pamannya, Abu Thalib, yang memang tidak tergolong kaya. Beliau mendapat upah dari menggembalakan beberapa ekor kambing miliki orang lain, yang secara otomatis mengurangi biaya hidup yang harus ditanggung oleh pamannya ini.
Pada usia 12 tahuan, sebuah usia yang relatif muda, beliau melakukan perjalanan dagang ke Syiria bersama Abu Thalib. Beliau tumbuh dewasa di bawah asuhan pamannya ini dan belajar mengenai bisnis perdagangan darinya. Bahkan ketika menjelang dewasa dan menyadari bahwa pamannya bukanlah orang berada serta memiliki keluarga besar yang harus diberi nafkah, Rasulullah mulai berdagang sendiri di kota Mekkah.
Bisnisnya diawalai dengan sebuah perdagangan taraf kecil dan pribadi, yaitu dengan membeli barang dari satu pasar dan menjualnya kepada orang lain. Aktivitas bisnis lainnya dengan sejumlah orang di kota Mekkah pun dilakukan. Dengan demikian ternyata Rasulullah telah melakukan aktivitas bisnis jauh sebelum beliau bermitra dengan Khadijah. Dan inilah yang membuahkan pengalaman yang tak ternilai harganya dalam mengembangkan jiwa kewirausahaan pada diri Rasulullah.
Ciri yang sangat khas dari aktivitas bisnis yang dilakukan oleh Rasulullah waktu itu adalah beliau sangat terkenal karena kejujurannya dan sangat amanah dalam memegang janji. Sehingga tidak ada satupun orang yang berinteraksi dengan beliau kecuali mndapat kepuasan yang luar biasa. Dan ini merupakan sebuah nuansa dengan pesona tersendiri bagi warga Jazirah Arab. apalagi kemuliaan akhlaknya seakan menebarkan pesona indah kepribadiannya.
Pun ketika beliau tidak memiliki uang untuk berbisnis sendiri, ternyata beliau banyak menerima modal dari orang-orang kaya Mekkah yang tidak sanggup menjalankan sendiri dana mereka, dan menyambut baik seseorang yang jujur untuk menjalankan bisnis dengan uang yang mereka miliki berdasarkan kerjasama. Tiada lain karena sejak kecil Rasulullah telah dikenal oleh penduduk Mekkah sangat rajin dan penuh percaya diri. Dikenal pula oleh kejujuran dan integritasnya dibidang apapun yang dilakukannya. Tak berlebihan bila penduduk Mekkah memanggilnya dengan sebutan Shiddiq (jujur) dan Amin (terpercaya).
Salah seorang pemiliki modal itu adalah Khadijah, yang kelak menjadi istri beliau, yang menawarkan suatu kemitraan berdasarkan sistem bagi hasil (profit sharing). Dan, subhanallaah, kecakapan Rasulullah dalam berbisnis telah mendatangkan keuntungan, dan tidak satupun jenis bisnis yang ditanganinya mendapat kerugian. Selama bermita dengan Khadijah inilah Rasulullah telah melakukan perjalanan dagang ke pusat bisnis di Habasyah (Ethiopia) dan Yaman. Beliau pun empat kali memimpin ekspedisi perdagangan untuk Khadijah ke Syria dan Jorash.
Diantara hal yang terus menerus harus kita teladani dari Rasulullah dalam interaksi bisnisnya adalah beliau sangat menjaga nilai-nilai harga diri, kehormatan, dan kemuliannya dalam proses interaksi bisnisnya ini. Bisnis bagi Rasulullah SAW tidak hanya sebatas perputaran uang dan barang, tapi ada yang lebih tinggi dari semua itu, yaitu mejaga kehormatan diri. Sehingga keuntungan apapun dari setiap transaksi yang beliau dapatkan, maka kemuliaannya justru semakin menjulang tinggi. Semakin dihormati, semakin disegani dan ini menjadi aset tak ternilai harganya yang mendatangkan kepercayaan dari para pemilik modal.
Dengan kata lain, modal terbesar dari seorang yang menjadi pengusaha sukses, pemimpin sukses, atau ilmuwan sukses dalam disiplin ilmu apapun, ternyata jiwa entrepreneur ini harus dikembangkan sejak awal. Pembangunan harga diri, pembangunan etos kerja, pembangunan karir kehormatan sebagai seorang jujur yang terbukti teruji dan sangat amanah terhadap janji-janji, jikalau hal ini ditanamkan, dilatih sejak awal maka akan membuahkan kepribadian yang sangat bermutu tinggi dan ini menjadi bekal kesuksesan bekerja dimanapun atau kesuksesan mengemban amanah jenis apapun.
Dan yang paling perlu digaris bawahi, Rasulullah SAW mengadakan transaksi bisnis sama sekali tidak untuk memupuk kekayaan pribadi, tetapi justru untuk membangun kehormatan dan kemuliaan bisnisnya dengan etika yang tinggi dan hasil yang didapat justru untuk didistribusikan ke sebanyak umat. Sehingga kesuksesannya mampu membawa banyak dampak positif, yaitu kesuksesan dan kesejahteraan bagi umat yang lainnya. Dan inilah yang menyebabkan kepribadian junjungan kita, Rasullah SAW begitu monumenatal, baik dalam mencari nafkah maupun dalam menafkahkan karunia rizki yang diperolehnya.
Semoga kita semua mampu merenungi kejujuran diri, amanah, dan kegigihan dalam menjaga kehormatan harga diri kita selaku umat Islam.***

KRITIK PUBLIC SPACE “RESTORAN STEAK LESEHAN”

(Studi Kasus Restoran Rasa Mirasa dan Restoran Mas Mbong)

Restoran adalah suatu tempat/bangunan yang diorganisasikan secara komersil yang menyilang gerakan pelayanan dengan baik kepada semua tamunya baik berupa makanan maupun minuman (Marsum W, 1989:7). Hampir sama dengan pendapat di atas, dalam buku pengantar Ilmu perhotelan dan restoran dijelaskan bahwa, restoran adalah suatu industri yang terbatas yaitu industri yang melayani makanan dan minuman kepada semua orang yang jauh dari rumahnya maupun yang dekat dari rumahnya. Dari kedua pendapat tersebut di atas tentang restoran, dapat disimpulkan bahwa restoran adalah suatu wadah untuk melakukan transaksi jual beli berupa makanan dan minuman, dan bisa juga sebagai sarana untuk mendapatkan hiburan kepada semua orang yang membutuhkan yang dikelola secara profesional dan terorganisir. Pengertian di atas, kita bisa menarik fungsi restoran secara umum yaitu sebagai wadah kegiatan untuk menyediakan aneka makanan dan minuman yang juga sekaligus sebagai tempat untuk mendapatkan hiburan karena telah didukung suasana yang tercipta dari penataan interiornya.

Ada empat spesifikasi jenis restoran, jenis restoran menurut pelayanannya, jenis restoran yang berdasarkan menu makanannya, jenis restoran berdasarkan pengelolaannya, dan jenis restoran menurut besar bangunannya. Dalam hal ini, membandingkan dua restoran yang memiliki kesamaan jenis yaitu berdasarkan jenis makanan dan sistem pelayanannya dengan studi kasus di dua restoran yang terdapat di Surakarta, yaitu Restoran Rasa Mirasa di daerah Pabelan dan Restoran Mas Mbong di dekat Istana Mangkunegara. Kedua restoran ini memiliki spesifikasi yang sejenis, sama-sama menyediakan menu makanan dan minuman yang beranekan ragam, tidak khusus sejenis makanan saja. Lalu sistem pelayanannya, sama-sama memakai sistem pelayanan table service, ada yang lesehan maupun menggunakan kursi. Meski keduanya sama, pasti ada keunggulan masing-masing yang tidak dimiliki yang lainnya.

Restoran Rasa Mirasa

Restoran umum yang menyediakan menu makanan dan minuman beraneka ragam, terletak di jalan Raya Solo Kartosura km.8, Pabelan, Sukoharjo.

Sama halnya dengan restoran lainnya, Rasa Mirasa merupakan suatu wadah untuk melakukan transaksi jual beli yang berupa makanan dan minuman yang bisa juga sebagai sarana mendapatkan hiburan kepada para pengunjung yang dikelola secara profesional dan terorganisir. Jenis pelayanan di restoran ini menggunakan sistem pelayanan service table, pengunjung langsung menuju meja makan yang mana dibagi menjadi dua tempat, ruang makan dalam yang menggunakan meja dan kursi, dan ruang makan taman (gazebo) yang hanya menggunakan meja saja dan duduk lesehan di atas tirai bambu atau tikar. Pengunjung memesan makanan dan minuman berdasarkan menu yang ada, lalu makanan diantar oleh pramusaji ke tempat pengunjung duduk. Selesai makan, pengunjung bayar di kasir yang terdapat di pintu keluar pengunjung.

Karena banyaknya ruang yang terdapat di restoran itu, kita hanya akan membahas ruang makan taman yang disebut gazebo. Gazebo pada restoran Rasa Mirasa ini menggunakan atap limasan, dengan bahan atap dari genting dan konstruksi utama bambu. Inilah keunikan dari Restoran Rasa Mirasa, bahwa bahan utama dan kontruksi utamanya menggunakan bambu, sampai tiang utamanya pun menggunakan bambu. Hal ini yang membuat Restoran Rasa Mirasa terkesan tradisi namun megah, mengangkat kebudayaan Jawa dan Sunda (yang terlihat dari bentuk atap dan konsep furniturenya) dan segmentasi pasarnya kalangan menengah ke atas.

Ceiling pada gazebo juga menggunakan bahan bambu, yaitu anyaman bambu guna menutupi atap genting agar tidak terlihat dari dalam dan serbuk genting tidak mengotori area dalam gazebo. Tapi, meski ditutup menggunakan anyaman bambu, konstruksi utama atap yang terbuat dari bambu pula tadi tidak ikut ditutup (diekspos). Faktor keindahan sangat di utamakan disini, selain faktor pelayanan yang paling ditonjolkan, karena memang visi utama restoran ini menyediakan makanan dan minuman serta tempat untuk menikmatinya bagi pengunjung.

Unsur pembentuk ruang yang lainnya adalah lantai dan dinding. Pada gazebo, dinding yang dipakai menggunakan bahan yang sama dengan bahan yang dipakai untuk ceiling, yaitu anyaman bambu atau orang Jawa menyebutnya gedhek. Gedhek dipasang separuh, dan separuh bagian lain sengaja dibuat terbuka, agar pengunjung dapat menikmati taman sekitar gazebo, dan inilah essensi dari ruang makan taman ini. Selain agar pengunjung dapat menikmati alam sekitar, hal ini juga berguna untuk penghawaan, penghawaan alami yang sesuai konsep awal restoran tersebut yaitu kembali ke alam, semua bahan yang digunakan berbau-bau tradisi dan alami. Di gedhek terdapat motif-motif wajik dengan repetisi yang cantik, membesar dan mengecil, membuat gedhek terlihat lebih hidup, dinamis, dan tidak kaku.

Lantai di gazebo ini menggunakan lantai keramik dengan ukuran 30 x 30 cm, lalu ditutup dengan karpet berwarna hijau. Warna bambu dan unsur kayu yang alami membuat suasana netral dan terkesan hangat, belum lagi bahan karpet yang menambahnya semakin nyaman. Dan suasana pun semakin harmonis, lantai keramik dan warna hijau tumbuhan serta karpet menambah suasana makin menyenangkan, benar-benar perpaduan unsur dan warna yang membuat pengunjung merasa nyaman di dalamya.

Restoran Mas Mbong

Restoran yang mengutamakan menu dan rasa makanan-minuman yang khas ini terletak di jalan Ronggowarsito 83 Mangkunegara, Surakarta.

Berangkat dari penetapan Pura Mangkunegaran sebagai cagar budaya dan sebagai salah satu lokasi wisata kuliner, ”Mas Mbong” Steak dan Resto yang bergerak dalam bisnis kuliner berdiri dengan memanfaatkan bangunan bagian Pura Mangkunegaran. Dalam pengamatan di lapangan, banyak hal di Restoran Mas Mbong yang seharusnya dioptimalkan sehingga dapat menjadikan value added dalam berbisnis, misalnya penataan ruang dan unsur pembentuk ruangnya yang terkesan hanya tempelan yang dipaksakan. Aksesoris interiornya oun juga hanya terkesan main-main tanpa mempertimbangkan nilai estetis maupun fungsinya. Di dunia interior ada ungkpaan shape follow function yang sebenarnya dalam hal ini mengajarkan bagaimana menata ruang sesuai dengan bentuk, tema global serta fungsinya.

Restoran ini terletak pada lingkungan Pura Mangkunegaran. Hal ini berpengaruh pada arsitektur/interior restoran ini, dengan melihat bentuk rumah tradisioanl joglo. Dalam interiornya, terdapat empat tiang utama yang berbahan kayu jati sebagai saka guru, empat tiang tambahan pada area ruang makan belakang.

Membandingkan dengan restoran rasa mirasa pada pembahasannya di atas, dalam pembahasan ini difokuskan pada area pengunjungnya saja, ruang makan dalam yang terbagi menjadi dua bagian yaitu ruang makan yang menggunakan kursi (baik kursi yang mempunyai sandaran maupun tidak) dan ruang makan yang hanya menggunakan bancik dengan konsep lesehan.

Dilihat dari unsur pembentuk ruangnya, ceiling terbuat dari kayu reng jati yang ditutup anyaman bambu. Untuk membatasi area dalam dan luar, dindingnya terbuat dari plesteran dengan cat putih, dan untuk membatasi area dalamnya, dinding hanya terbuat dari bahan bambu yang dianyam (Gedhek yang bermotif). Ukiran pada pintu, jendela dan fentilasi ruangan menjadikan rumah makan ini terkesan ketradisian. Unsur pembentuk ruang yang lain, yaitu lantai yang terbuat dari keramik berwarna putih polos.

Ditinjau dari jenis bangunannya, rumah makan ini memiliki konsep tradisi. Bangunan ini termasuk kelas sederhana tetapi fasilitas di dalamnya dibuat untuk kalangan menengah ke bawah, seperti kalangan pelajar, kantoran dan masyarakat umum. Sistem pelayanannya, pengunjung yang datang mencari tempat duduk sendiri. Setelah itu, pelayan datang menyajikan menu makanan dan mencatat pesanannya. Setelah makan, pengunjung membayarnya di kasir di area pintu keluar restoran.

Sama halnya dengan restoran lainnya, Mas Mbong merupakan suatu wadah untuk melakukan transaksi jual beli yang berupa makanan dan minuman yang bisa juga sebagai sarana mendapatkan hiburan kepada para pengunjung yang dikelola secara profesional dan terorganisir pula, ssama seprti restoran Rasa Mirasa. Tetapi Mas Mbong mempunyai visi dan misi tersendiri, yaitu kehadiran restotan ini dilandasi oleh pemahaman mendalam tentang kebutuhan masyarakat akan hidangan yang baik, yang merupakan perpaduan resep yang khas yang tak henti ditingkatkan kualitasnya dan kebersihannya serta nilai gizi tinggi yang senantiasa dijaga. Restoran ini memiliki misi untuk mengangkatkan daya tarik pengunjung dengan cara mengutamakan rasa dari menu makanan dan juga mengutamakan pengunjung sebagai raja.

Analisis Formal dan Interpretasi

Mencoba memasukkan beberapa teori tentang keindahan untuk menganalisis pembentuk ruang dan pengisi ruang dari karya yang dideskripsikan di atas. Kita ambil teori Monroe Beardsley dalam Problems in the philosophy of Critism yang menjelaskan adanya tiga ciri yang menjadi sifat-sifat membuat baik (indah) dari benda-benda estetis pada umumnya. Ketiga ciri termaksud adalah:

1. Kesatuan (unity), ini berarti bahwa benda estetis ini tersusun secara baik atau sempurna bentuknya.

2. Kerumitan (complexity), Benda estetis atau karya seni yang bersangkutan tidak sederhana sekali, melainkan karya akan isi maupun unsur-unsur yang saling berlawanan ataupun mengandung perbedaan-perbedaan yang halus.

3. Kesungguhan (intensity), Suatu benda estetis yang baik harus mempunyai suatu kualitas tertentu menonjol dan bukan sekedar sesuatu yang kosong. Tak menjadi soal kualitas apa yang dikandungnya.

Ada keterkaitannya dengan teori Monroe, De Witt H. Parker dalam teori bentuk estetiknya mengungkapkan ada enam asas, yaitu: the principle of organic unity (asas kesatuan/utuh), the principle of theme (asas tema), the principle of thematic variation (asas variasi menurut tema), the principle of balance (asas keseimbangan), the principle of evolution (asas perkembangan), dan the principle of hierarchy (asas tata jenjang).

Pada dasarnya kedua restoran tersebut telah memenuhi kriteria keindahan yang Monroe dan Parker maksud. Penggunaan bahan yang menjadi unsur pembentuk ruang di kedua restoran tersebut membentuk satu-kesatuan yang utuh, serasi dan selaras. Pengangkatan unsur tradisi dan bahan pun benar-benar tradisional menjadikan perancangan kedua restoran tersebut telah menyentuh complexity. Kedua hal tersebut membuktikan bahwa desainer bersungguh-sungguh memasukkan unsur keindahan di dalam kedua restoran tersebut.

Penutup

Restoran adalah suatu wadah untuk melakukan transaksi jual beli berupa makanan dan minuman, dan bisa juga sebagai sarana untuk mendapatkan hiburan kepada semua orang yang membutuhkan yang dikelola secara profesional dan terorganisir. Dari pengertian ini kita bisa menarik fungsi restoran secara umum yaitu sebagai wadah kegiatan untuk menyediakan aneka makanan dan minuman yang juga sekaligus sebagai tempat untuk mendapatkan hiburan karena telah didukung suasana yang tercipta dari penataan interiornya.

Dua restoran di atas mempunyai kesamaan dalam hal jenis restorannya. Jenis restoran berdasarkan menu makanan yang beraneka ragam maupun jenis pelayanan yang table service. Dari kesamaan tersebut terdapat perbedaaan yang mendasar, dari segmentasi pasar maupun interiornya. Membandingkan kedua restoran ini dengan maksud mencari keganjalan yang terjadi di lapangan, yang tidak sesuai dengan essensi dari sebuah restoran pada umumnya dengan menggunakan teori desain dan keindahan juga. menganalisinya, lalu menginterpretasikan pendapat maupun saran.

Teori Monroe Beardsley dalam Problems in the philosophy of Critism yang menjelaskan adanya tiga ciri yang menjadi sifat-sifat membuat baik (indah) dari benda-benda estetis pada umumnya. Ketiga ciri termaksud adalah:Kesatuan (unity), ini berarti bahwa benda estetis ini tersusun secara baik atau sempurna bentuknya, Kerumitan (complexity), Benda estetis atau karya seni yang bersangkutan tidak sederhana sekali, melainkan karya akan isi maupun unsur-unsur yang saling berlawanan ataupun mengandung perbedaan-perbedaan yang halus, Kesungguhan (intensity), Suatu benda estetis yang baik harus mempunyai suatu kualitas tertentu menonjol dan bukan sekedar sesuatu yang kosong. Tak menjadi soal kualitas apa yang dikandungnya.

Pada dasarnya kedua restoran tersebut telah memenuhi kriteria keindahan yang Monroe dan Parker maksud. Penggunaan bahan yang menjadi unsur pembentuk ruang di kedua restoran tersebut membentuk satu-kesatuan yang utuh, serasi dan selaras. Pengangkatan unsur tradisi dan bahan pun benar-benar tradisional menjadikan perancangan kedua restoran tersebut telah menyentuh complexity. Kedua hal tersebut membuktikan bahwa desainer bersungguh-sungguh memasukkan unsur keindahan di dalam kedua restoran tersebut.

ETIKA BERWIRAUSAHA CARA RASULULLAH SAW

"Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa dan janganlah kamu tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksanya." (QS. Al-Maidah: 2)

Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya Allah SWT suka kepada hamba yang berkarya danterampil. Barang siapa bersusah payah mencari nafkah untuk keluarganya, maka dia serupa dengan seorang mujahid fisabilillah." (HR.Imam Ahmad)

Rasul Adalah seorang entrepreunership atau wirausahawan. Mulai usia 8 tahun 2 bulan sudahmulai menggembalakan kambing. Pada usia 12 tahun berdagang sebagai kafilah ke negeri Syiriadan pada usia 25 tahun Rasul menikahi Khadijah dengan mahar 20 ekor unta muda. Ini menunjukan bahwa Rasul merupakan seorang wirausahawan yang sukses.

Jiwa wirausaha harus benar-benar ditanamkan dari kecil, karena kalau tidak maka potensi apapun tidak bisa dibuat menjadi manfaat. Prinsip dari wirausahawan adalah memanfaatkan segala macam benda menjadi bermanfaat. Tidak ada kegagalan dalam berusaha, yang gagal yaitu yang tidak pernah mencoba berusaha.

Gagal merupakan informasi menuju sukses, keuntungan bukan hanya untung untuk diri sendiritapi juga untuk orang lain. Kredibilitas diri kita adalah modal utama dalam berwira usaha, dengan menahan diri untuk tidak menikmati kebahagiaan orang lain sebagai keberuntungankita. Jual beli bukan hanya transaksi uang dan barang, tapi jual beli harus dijadikan amal solehyaitu dengan niat dan cara yang benar.

Uang yang tidak barokah tidak akan dapat memberi ketenangan, walau sebanyak apapun akantetap kekurangan dan akan membuat kita hina. Berjualan dengan akhlak yang mulia, pembeli tidak hanya mendapat fasilitas dan tidak hanya mendapatkan barang tapi juga melihat kemuliaan akhlak seorang penjual.


ELEMEN ESTETIS INTERIOR MASJID AGUNG SURAKARTA DITINJAU DARI KONSEP KEINDAHAN

Masjid adalah tempat beribadah, sholat lima waktu, sholat Jum’at, dakwah, dan tempat suci untuk mEmpertemukan diri dengan dzat yang Maha Agung. Adapun pengertian Masjid Agung adalah masjid besar atau masjid utama sebagai tempat peribadatan umat Islam yang ada di Kota Madya/ kota dan biasanya berada di tengah kota. Masjid Agung Surakarta adalah salah satu cagar budaya kota Solo merupakan salah satu monumen yang menjadi tonggak sejarah awal pemerintahan Kerajaan Mataram sejak pemindahan ibukota dari Kartasura ke Surakarta di bawah kepemimpinan Paku Buwono II. Bersama kompleks Keraton dan benteng Vastenbreg, masjid tersebut menjadi jejak awal pembangunan dan penataan fisik Kota Surakarta. Masjid yang juga menjadi representasi warisan arsitektur daerah yang sangat tinggi arti dan nilainya itu bercorak tradisional Jawa. Arsitektur Masjid Agung Surakarta memiliki pembagian ruang yang mirip dengan rumah-rumah Jawa Klasik, oleh karena itu Masjid Agung Surakarta dikategorikan sebagai Masjid Tradisional Jawa. Bentuk bangunan Masjid Agung Surakarta mirip dengan bentuk bangunan Masjid Demak. Keindahan Mesjid Agung menjadi bukti sejarah masuknya ajaran agama Islam dan keberadaan Islam di Surakarta.

Elemen hias yang digunakan pada Masjid Agung Surakarta dominan menggunakan bentuk motif flora, terdapat pada elemen pembentuk ruang dan pengisian ruang. Motif-motif tersebut diambil dari bentuk stilasi daun ikal dan bunga. Motif yang terdapat pada elemen estetis masjid berfungsi sebagai elemen dekorasi dan pendukung suasana. Keberadaaanya dapat mendukung aspek keindahan dari masjid tersebut.

Nilai warna pada ruang Sholat Utama berperan sebagai warna representasi alam karena warna-warna yang digunakan menggunakan warna coklat dengan warna crem yang mewakili warna alam. Perpaduan ini mendukung kesan unity. Pada Serambi, Tratag Rambat, Pawastren, Balai Musyawarah , dan Yogaswara menggunakan warna biru muda ( biru laut ) gradasi mendukung kesan tata jenjang. Elemen estetis interior pada Masjid Agung Surakarta dominan menggunakan jenis ornamen organis karena ornamen tersebut bersumber pada fenomena alam yang hidup ( hayati ), berupa daun, tangkai, buah, bunga, batang, akar, dan lain-lain yang membentuk suatu perwujudan ornametik. Bentuk-bentuk yang muncul berupa kepala atau bagian kepala, tangan atau bagian tangan, kaki atau bagian kaki, dan lain-lain. Organ itu merupakan bagian dari totalitas tubuh. Dalam perwujudannya hanya bagian per bagian, tetapi dapat ditemukenali sebagai ornamen organis.

Interior ruang Sholat Utama terdapat elemen estetis pada unsur pembentuk ruang. Pada ruang Sholat Utama terdapat berbagai macam elemen estetis di antaranya menggunkan motif flora, geometris, kaligrafi, dan fauna. Semua elemen estetis tersebut berperan sebagai penghias ruangan. Elemen estetis pada interior ruang Sholat Utama mengandung aspek kesatuan karena adanya penggabungan motif flora dan fauna yang terdapat pada daun pintu ruang Sholat Utama. Motif flora berbentuk stilasi daun dan bunga sedangkan motif faunan berbentuk kepala naga dan sayap kupu-kupu yang menjadi kesatuan dalam membentuk elemen estetis pada daun pintu ruang Sholat Utama. Selain pada daun pintu juga terdapat pada mimbar ruang Sholat Utama. Motif-motif yang terdapat pada mimbar yaitu motif putri mirong, wajik, patran, mahkota, stilasi daun, dan geometris. Penggabungan motif-motif tersebut menjadi kesatuan dalam pembentukan elemen estetis pada mimbar ruang Sholat Utama. Pada mihrab terdapat berbagai macam elemen estetis yang menghiasinya di antaranya motif yang digunakan yaitu motif flora, geometris, dan kaligrafi. Motif flora terdapat pada kaca patri, sedangkan geometris berbentuk gerigi terdapat pada pilar, dan kaligrafi terdapat pada penghubung antar pilar dan hiasan logo PB X yang terdapat di kiri dan kanan mihrab. Penggabungan kesemua motif tersebut menjadi kesatuan dalam pembentukan elemen estetis pada mihrab ruang Sholat Utama. Elemen estetis pada interior ruang Sholat Utama mendukung aspek tema dapat dilihat dari penggunaan warna yang menjadi elemen penghiasnya. Warna pada ruang Sholat Utama menggunakan finishing coklat tua yang terdapat pada unsur pembentuk ruang dan pengisi ruang yaitu ceilling, kolom, pintu, mimbar, mihrab, jam, dan meja Al’Quran. Warna pada ruang Sholat Utama direprentasi dari alam sehingga tema yang ada di ruang Sholat Utama menggambarkan tentang alam yang melambangkan manusia akan kepapan dihadapan ALLAH SWT. Elemen estetis pada interior ruang Sholat Utama mengandung aspek variasi karena adanya penggunaan elemen estetis yang beraneka ragam yaitu adanya motif flora yang terdapat pada dinding, daun pintu, mimbar, mihrab, dan kolom pada ruang Sholat Utama. Motif geometris terdapat pada mihrab, balok di atas daun pintu, dan ventilasi. Motif putri mirong terdapat pada mihrab, patran dan mahkota terdapat pada mimbar. Motif fauna terdapat pada pintu ruang Sholat Utama. Kaligrafi tedapat pada mihrab dan balok yang terdapat di atas daun pintu ruang Sholat Utama. Gunungan terdapat pada pengisian ruang yaitu meja tempat peletakan Al’Quran. Selain motif-motif di atas yang menjadi elemen estetis interior pada ruang Sholat Utama, keindahan dapat dirasakan karena kehadiran warna yang terdapat pada unsur pembentuk ruang dan pengisi ruang pada ruang Sholat Utama. Elemen estetis pada interior ruang Sholat Utama mengandung aspek keseimbangan karena adanya unsur simetris dan repetisi pada elemen estetis yang menjadi penghias ruang Sholat Utama. Elemen simetris dapat kita lihat pada daun pintu, mihrab, dan mimbar karena kedua sisinya sama sejajar. Sedangkan unsur repetisi terdapat pada stilasi daun yang terletak dikolom dan dinding ruang Sholat Utama. Unsur repetisi juga terdapat pada motif geometris yang terdapat pada pilar-pilar mihrab. Motif patran juga menjadi unsur repetisi yang terdapat ada mimbar ruang Sholat Utama. Elemen estetis pada Interior ruang Sholat Utama mengandung aspek perkembangan karena adanya proses yang bagian awal-awalnya menentukan bagian-bagian selanjutnya dan bersama-sama menciptakan suatu makna dan menyeluruh dapat dilihat pada mimbar. Elemen estetis pada mimbar bentuk dasar motifnya adalah stilasi daun yang berkembang menjadi motif putri mirong dan patran. Aspek tata jenjang terdapat pada unsur mihrab karena penggabungan antara motig flora, geometris, kaligrafi, dan penggunaan warna yang menjadi tema utama pada masjid. Penggabungan tersebut membentuk suatu elemen estetis yang mempunyai makna.

Elemen estetis interior pada Serambi mengandung aspek kesatuan karena adanya penggunaan motif flora, geometris, fauna, dan kaligrafi. Motif-motif tersebut menjadi kesatuan dalam pembentukkan elemen estetis interior pada Serambi masjid. penggabungan motif flora dan kaligrafi terdapat pada mimbar Serambi yang menjadi kesatuan dalam pembentukkan elemen estetis mimbar. Sedangkan motif flora dan fauna terdapat pada daun pintu Serambi yang mana motif flora berbentuk stilasi daun dan motif fauna berbentuk kepala naga dan sayap kupu-kupu menjadi kesatuan dalam pembentukkan elemen estetis. Aspek kesatuan juga terdapat pada pola lantai yang bermotifkan flora dan geometris. Penggabungan motif-motif tersebut menjadi kesatuan dalam pembentukkan elemen estetis pada Serambi. Elemen estetis pada interior Serambi mendukung aspek tema masjid, yakni simbol Keraton Surakarta dalam nuansa biru laut, dapat dilihat dari penggunaan warna yang menjadi elemen penghiasnya. Warna pada Serambi menggunakan finishing biru laut yang terdapat pada unsur pembentuk ruang yaitu ceilling dan kolom yang terdapat pada Serambi. Elemen estetis pada Interior Serambi mengandung aspek variasi karena adanya penggabungan elemen estetis yang beraneka ragam di antaranya motif flora, geometris, kaligrafi, dan motif fauna. Motif flora dan fauna terdapat ada daun pintu penghubung Serambi dengan ruang Sholat Utama yang menjadikan elemen estetis pada daun pintu menjadi variasi. Sedangkan motif flora dan kaligrafi terdapat pada mimbar yang menjadi elemen variasi. Motif geometris selalu dipandankan dengan motif flora yang terdapat pada pola lantai Serambi sehingga mendukung kesan varisi tidak monoton. Motif putri mirong menjadi elemen estetis Serambi yang terdapat pada kolom Serambi. Elemen estetis pada interior Serambi mengandung aspek keseimbangan karena adanya unsur simetris dan repetisi yang menjadi elemen penghias Serambi. Elemen estetis yang merupakan unsur simetris tedapat daun pintu yang elemen estetisnya terdiri dari motif flora dan fauna. Elemen tersebut dapat dikatakan simetris karena bentuk kiri dan kanan sama dan sejajar. Motif putri mirong yang terdapat pada kolom Serambi dapat dikatakan simetris karena apabila dibagi dua bentuknya sama dan sejajar. Pada lantai dan mimbar dapat dikatakan simetris apabila sisi kiri dan kanannya sama dan sejajar. Aspek repetisi karena adanya motif geometris dan motif flora berulang-ulang pada Serambi. Elemen estetis pada interior Serambi mengandung aspek perkembangan karena adanya proses yang bagian awal-awalnya menentukan bagian-bagian selanjutnya dan bersama-sama menciptakan suatu makna yang menyeluruh dapat dilihat pada unsur pembentuk ruang yaitu daun pintu Serambi yang menuju ruang Sholat Utama. Pada dasarnya motif yang digunakan berbentuk stilasi daun yang berkembang menjadi motif tlancapan. Aspek tata jenjang terdapat pada unsur pembentuk ruang yaitu putri mirong yang terdapat pada kolom Serambi.

Interior Tratag Ramabat terdapat elemen estetis pada unsur pembentuk ruang. Pada Tratag Rambat terdapat berbagai macam elemen estetis di antaranya menggunakan motif flora dan geometris. Semua elemen estetis tersebut berperan sebagai penghias ruangan. Elemen estetis pada interior Tratag Rambat mengandung aspek kesatuan karena adanya penggabungan antara motif flora dan geometris yang menjadi penghias elemen estetis lantai Tratag Rambat. Motif-motif yang digunakan pada lantai tersebut menggunakan bentuk stilasi daun dan bunga yang dipadukan dengan bentuk setengah lingkaran dan garis yang menjadi kesatuan yang utuh. Sedangkan pada pagar besi terdapat elemen estetis yang menghiasinya di antaranya motif flora dan geometris. Kedua motif tersebut menjadi kesatuan dalam pemebentukkan elemen estetis pada pagar besi yang terdapat pada Tratag Rambat. Elemen estetis pada interior Tratag Ramabat mendukung aspek tema masjid yakni Surakarta berkait dengan Laut Kidul, dapat dilihat dari penggunaan warna yang menjadi elemen penghiasnya. Warna pada Tratag Rambat menggunakan finishing biru laut yang terdapat pada unsur pembentuk ruang yaitu ceilling, pagar besi, dan tiang-tiang yang terdapat pada Tratag Rambat. Elemen estetis pada interior Tratag Rambat mengandung aspek variasi karena adanya penggunaan elemen estetis yang beraneka ragam yaitu motif flora dan geometris yang terdapat pada unsur pembentuk ruang. Pada lantai dan pagar besi terdapat gabungan elemen estetis yang menghiasinya yaitu motif geometris dan motif flora. Elemen estetis pada interior Tratag Rambat mengandung aspek keseimbangan karena adanya unsur simetris dan repetisi yang menjadi penghias Tratag Rambat. Elemen estetis pada lantai dapat dikatan simetris karena motif yang menjadi penghias pola lantai sisi kiri dan kanannya sama sejajar apabila ditarik garis tengah. Sedangkan pada pagar Tratag Rambat elemen estetisnya memiliki unsur simetris karena sisi kiri dan kanannya sama sejajar. Unsur repetisi terdapat pada elemen estetis pola lantai karena adanya pengulangna motif flora dan geometris. Elemen estetis pada interior Tratag Rambat mengandung aspek perkembangan karena adanya proses yang bagian-bagian awalnya menentukan bagian-bagian selanjutnya dan bersama-sama menciptakan suatu makna yang menyeluruh dapat dilihat dari motif flora dan geometris yang terdapat pada pagar Tratag Rambat. Motif geometris berbentuk spiral yang menjadi dasar elemen estetis kemudian berkembang menjadi motif flora yang menjadi elemen estetis pagar besi Tratag Rambat. Asas tata jenjang Tratag Rambat terdapat pada unsur pembentuk ruang yaitu pagar besi yang memiliki aspek kesatuan, variasi, keseimbangan, tema, dan perkembangan.

Interior ruang Pawastren terdapat elemen estetis pada unsur pembentuk ruang. Pada ruang Pawastren terdapat berbagai macam elemen estetis di antaranya menggunkan motif flora dan fauna. Semua elemen estetis tersebut berperan sebagai penghias ruangan. Elemen estetis pada Interior ruang Pawastren mengandung aspek kesatuan karena adanya penggabungan motif flora dan fauna yang terdapat pada daun pintu ruang Sholat Utama. Motif flora berbentuk stilasi daun dan bunga sedangkan motif fauna berbentuk kepala naga dan sayap kupu-kupu yang menjadi kesatuan dalam membentuk elemen estetis pada daun pintu ruang Pawastren. Selain pada daun pintu juga terdapat pada cermin pengisi ruang Pawastren. Motif-motif yang digunakan pada cermin berbentuk stilasi daun dan bunga. Motif-motif tersebut menjadi kesatuan dalam pembentukan elemen estetis pada cermin dan daun pintu Pawastren yang merupakan pembentukkan elemen estetis. Elemen estetis pada interior ruang Pawastren mengandung aspek tema dapat dilihat dari penggunaan warna yang menjadi elemen penghiasnya. Warna pada ruang Pawastren menggunakan finishing biru laut yang terdapat pada unsur pembentuk ruang yaitu ceilling dan kolom. Elemen estetis pada interior Pawastren mengandung aspek variasi karena adanya penggunaan elemen estetis yang beraneka ragam yaitu adanya motif flora yang terdapat pada daun pintu dan frem pada cermin, sedangkan motif fauna terdapat pada daun pintu yang berbentuk kepala naga dan sayap kupu. Keindahan dapat dilihat karena adanya variasi warna yang terdapat pada unsur pembentuk ruang dan pengisi ruang pada interior ruang Pawastren. Elemen estetis pada interior mengandung aspek keseimbangan karena adanya unsur simetris dan repetisi pada elemen estetis yang menjadi penghias ruang Pawastren. Elemen simetris dapat kita lihat pada daun pintu dan frem cermin karena kedua sisinya sama sejajar. Sedangkan unsur repetisi terdapat pada stilasi daun yang terletak di frem cermin pada ruang Pawastren. Elemen estetis pada interior ruang Pawastren mengandung aspek perkembangan karena adanya proses yang bagian awal-awalnya menentukan bagian-bagian selanjutnya dan bersama-sama menciptakan suatu makna dan menyeluruh dapat dilihat pada cermin. Elemen estetis pada cermin bentuk dasar motifnya adalah stilasi daun dan bunga yang berkembang menjadi motif penghias cermin. Aspek tata jenjang terdapat pada semua aspek keindahan di dalamnya yaitu daun pintu pada Pawastren karena penggabungan antara motif flora, fauna dan penggunaan warna yang menjadi tema. Penggabungan tersebut membentuk suatu elemen estetis yang mempunyai makna.

Interior ruang Balai Musyaearah terdapat pada unsur pembentuk ruang. Pada ruang Balai Musyawarah terdapat berbagai macam elemen estetis di antaranya menggunkan motif flora dan fauna. Semua elemen estetis tersebut berperan sebagai penghias ruangan. Elemen estetis pada interior ruang Balai Musyawarah mengandung aspek kesatuan karena adanya penggabungan motif flora dan fauna yang terdapat pada daun pintu Balai Musyawarah . Motif flora berbentuk stilasi daun dan bunga sedangkan motif fauna berbentuk kepala naga dan sayap kupu-kupu yang menjadi kesatuan dalam membentuk elemen estetis pada daun pintu ruang Balai Musyawarah . Selain pada daun pintu juga terdapat pada cermin pengisi ruang Pawastren. Elemen estetis pada Interior ruang Balai Musyawarah mengandung aspek tema dapat dilihat dari penggunaan warna yang menjadi elemen penghiasnya. Warna pada ruang Balai Musyawarah menggunakan finishing biru laun yang terdapat pada unsur pembentuk ruang yaitu ceilling dan kolom. Warna pada ruang Balai Musyawarah mendukung suasana Keraton Surakarta. Elemen estetis pada interior Balai Musyawarah mengandung aspek variasi karena adanya penggunaan elemen estetis yang beraneka ragam yaitu adanya motif flora yang terdapat pada daun pintu, sedangkan motif fauna terdapat pada daun pintu yang berbentuk kepala naga dan sayap kupu. Keindahan juga dapat divariasikan dengan warna yang terdapat pada unsur pembentuk ruang pada ruang Balai Musyawarah . Elemen estetis pada Interior Balai Musyawarah mengandung aspek keseimbangan karena adanya unsur simetris dan repetisi pada elemen estetis yang menjadi penghias ruang Balai Musyawarah . Elemen simetris dapat kita lihat pada daun pintu karena kedua sisinya sama sejajar. Elemen estetis pada interior ruang Balai Musyawarah mengandung aspek perkembangan karena adanya proses yang bagian awal-awalnya menentukan bagian-bagian selanjutnya dan bersama-sama menciptakan suatu makna dan menyeluruh dapat dilihat pada motif daun yang digunakan pada pintu. Stilasi daun yang kecil berkembang menjadi tumpukan daun ( bergerombol ). Aspek tata jenjang terdapat pada semua aspek keindahan di dalamnya yaitu daun pintu pada Balai Musyawarah karena penggabungan antara motif flora, fauna dan penggunaan warna yang menjadi tema. Penggabungan tersebut membentuk suatu elemen estetis yang mempunyai makna.

Secara garis besar hasil penelitian menunjukkan bahwa keindahan interior Masjid Agung Surakarta pada setiap ruang mengandung aspek kesatuan karena adanya perpaduan motif flora dan fauna. Aspek tema karena adanya warna yang mendukung tema suasana Surakarta yakni biru laut sebagai lambang adanya hubungan antara Keraton Surakarta dengan Laut Kidul. Aspek keragaman karena unsur yang digunakan tidak hanya terdiri dari satu jenis motif, akan tetapi terdiri dari motif flora, fauna, geometris, dan kaligrafi. Aspek keseimbangan karena adanya komposisi besarnya motif dan jarak. Aspek perkembangan karena adanya motif stilasi daun dan bunga menjadi motif flora secara utuh. Aspek tata jenjang karena adanya penggabungan antara jenis motif flora, fauna, geometris, kaligrafi dan didukung warna mendukung kesan suasana tema Surakarta. Penggabungan tersebut membentuk suatu elemen estetis yang mempunyai makna.

DIAM ITU EMAS

Dalam upaya mendewasakan diri kita, salah satu langkah awal yang harus kita pelajari adalah bagaimana menjadi pribadi yang berkemampuan dalam menjaga juga memelihara lisan dengan baik dan benar. Sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw, "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata benar atau diam.", hadits diriwayatkan oleh Bukhari.

1. Jenis-jenis Diam

Sesungguhnya diam itu sangat bermacam-macam penyebab dan dampaknya. Ada yang dengan diam jadi emas, tapi ada pula dengan diam malah menjadi masalah. Semuanya bergantung kepada niat, cara, situasi, juga kondisi pada diri dan lingkungannya. Berikut ini bisa kita lihat jenis-jenis diam:

a. Diam Bodoh

Yaitu diam karena memang tidak tahu apa yang harus dikatakan. Hal ini bisa karena kekurangan ilmu pengetahuan dan ketidakmengertiannya, atau kelemahan pemahaman dan alasan ketidakmampuan lainnya. Namun diam ini jauh lebih baik dan aman daripada memaksakan diri bicara sok tahu.

b. Diam Malas

Diam jenis merupakan keburukan, karena diam pada saat orang memerlukan perkataannya, dia enggan berbicara karena merasa sedang tidak mood, tidak berselera atau malas.

c. Diam Sombong

Ini pun termasuk diam negatif karena dia bersikap diam berdasarkan anggapan bahwa orang yang diajak bicara tidak selevel dengannya.

d. Diam Khianat

Ini diamnya orang jahat karena dia diam untuk mencelakakan orang lain. Diam pada saat dibutuhkan kesaksian yang menyelamatkan adalah diam yang keji.

e. Diam Marah

Diam seperti ini ada baiknya dan adapula buruknya, baiknya adalah jauh lebih terpelihara dari perkataan keji yang akan lebih memperkeruh suasana. Namun, buruknya adalah dia berniat bukan untuk mencari solusi tapi untuk memperlihatkan kemurkaannya, sehingga boleh jadi diamnya ini juga menambah masalah.

f. Diam Utama (Diam Aktif)

Yang dimaksud diam keutamaan adalah bersikap diam hasil dari pemikiran dan perenungan niat yang membuahkan keyakinan bahwa engan bersikap menahan diri (diam) maka akan menjadi maslahat lebih besardibanding dengan berbicara.

2. Keutamaan Diam Aktif

a. Hemat Masalah

Dengan memilih diam aktif, kita akan menghemat kata-kata yang berpeluang menimbulkan masalah.

b. Hemat dari Dosa

Dengan diam aktif maka peluang tergelincir kata menjadi dosapun menipis, terhindar dari kesalahan kata yang menimbulkan kemurkaan Allah.

c. Hati Selalu Terjaga dan Tenang

Dengan diam aktif berarti hati akan terjaga dari riya, ujub, takabbur atau aneka penyakit hati lainnya yang akan mengeraskan dan mematikan hati kita.

d. Lebih Bijak

Dengan diam aktif berarti kita menjadi pesdengar dan pemerhati yang baik, diharapkan dalam menghadapi sesuatu persoalan, pemahamannya jauh lebih mendaam sehingga pengambilan keputusan pun jauh lebih bijak dan arif.

e. Hikmah Akan Muncul

Yang tak kalah pentingnya, orang yang mampu menahan diri dengan diam aktif adalah bercahayanya qolbu, memberikan ide dan gagasan yang cemerlang, hikmah tuntunan dari Allah swtakan menyelimuti hati, lisan, serta sikap dan perilakunya.

f. Lebih Berwibawa

Tanpa disadari, sikap dan penampilan orang yang diam aktif akan menimbulkan wibawa tersendiri. Orang akan menjadi lebih segan untuk mempermainkan atau meremehkan.

Selain itu, diam aktif merupakan upaya menahan diri dari beberapa hal, seperti:

1. Diam dari perkataan dusta

2. Diamdari perkataan sia-sia

3. Diam dari komentar spontan dan celetukan

4. Diam dari kata yang berlebihan

5. Diam dari keluh kesah

6. Diam dari niat riya dan ujub

7. Diam dari kata yang menyakiti

8. Diam dari sok tahu dan sok pintar

Mudah-mudahan kita menjadi terbiasa berkata benar atau diam. Semoga pula Allah ridha hingga akhir hayat nanti, saat ajal menjemput, lisan ini diperkenankan untuk mengantar kepergian ruh kita dengan sebaik-baik perkataan yaitu kalimat tauhiid "laa ilaha illallah" puncak perkataan yang menghantarkan ke surga. Aamiin

KRITIK PERBANDINGAN PENDAPA

(Studi Kasus Pendapa ISI Surakarta dan Pendapa Taman Budaya Jawa Tengah)

Pendopo dalam ejaan bahasa Indonesia yaitu pendapa yang berarti rumah bagian muka, dapat pula diartikan balai (ruang) besar empat berapat dan sebagainya. Sama halnya yang terdapat di dalam buku Arsitektur terbitan Indonesia Heritage, Pendapa adalah sebuah bangunan terbuka yang terletak di bagian depan gugusan.

Pendapa pada awalnya difungsikan sebagai tempat melakukan pertemuan dan musyawarah. Bentuk bangunan yang bersifat terbuka tanpa sekat menunjukkan sifat kekeluargaan masyarakatnya dalam melakukan kegiatan. Pendapa sendiri merupakan wujud peninggalan masa Hindu yang masih bisa ditemu kenali dalam bentuk kekinian. Hal ini merupakan pengadopsian dari bentuk candi, sedangkan candi sendiri merupakan wujud perkembangan punden berundak pada zaman prasejarah akhir.

Fungsi pendapa pada awalnya dijadikan sebagai wadah masyarakat dalam melakukan pertemuan ataupun musyawarah. Akan tetapi pada perkembangannya terjadi pergeseran fungsi, hal ini disesuaikan dengan perkembangan zaman yang ada. Pendapa sudah tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat pertemuan ataupun melakukan musyawarah saja, tetapi juga sebagai tempat melakukan pertunjukan. Fenomena ini dapat dari fungsi pendapa ISI Surakarta dan Pendapa Taman Budaya Jawa Tengah.

Selain dari fungsinya, perkembangan pendapa juga terlihat dari bahan bangunan dan konstruksi yang dipakai. Berikut adalah studi kasus, membandingkan kedua pendapa tersebut, mengkritisi keganjalan yang ada, menganalisanya dengan pendekatan-pendekatan teori keindahan, lalu menginterpretasikan pendapat dan saran guna mencapai essensi pendapa yang sebenarnya. Analisi ini terfokus pada ornamen pada saka guru di kedua pendapa itu.

Pendapa Institut Seni Indonesia Surakarta

Pendapa Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta bentuknya mengadopsi bentuk Joglo Rumah Tradisional Jawa, yaitu terdapat saka guru dengan umpak, ceiling tumpang sari (brujung), ornamen hias dan tiang pendukung lainnya.

Bahan yang digunakan untuk pendirian pendapa ini kebanyakan menggunakan bahan-bahan modern seperti cor beton untuk saka guru dan kontruksinya.

Fungsi pendapa ini digunakan untuk acara pementasan tari, karawitan, ketoprak, acara resepsi pengantin, pertemuan, dan lain-lain. Elemen pengisi ruang pada pendapa ini yaitu seperangkat gamelan, sketsel pada bagian belakang dan juga terdapat lampu yang digunakan untuk pementasan. Bentuk atap pendapa ini mengadopsi bentuk Joglo yaitu dari depan terlihat seperti bentuk trapesium. Lantai menggunakan parket dan teraso ukuran 40x40 cm. ada perbedaan level lantai, yaitu pada bagian tengah dan samnpingnya.

Saka guru pada pendapa ISI menggunakan bahan dari beton dengan finishing cat tembok warna merah hati, dan terdapat ukiran tempel dari kayu dengan gaya Surakarta di finishing melamin, pada umpaknya terdapat motif padma (teratai merah) dengan menggunakan bahan cor beton difinishing dengan cat tembok warna hitam.

Ornamen yang digunakan juga sama pada bagian bawahnya, tetapi posisinya dibalik. Terdapat motif wajikan pada profil bagian atas, dan juga terdapat bubutan dari kayu dengan finishing melamin.

Motif hiasan pada ceiling pendapa ini menggunakan motif 4 anak panah yang telah distilir, bentuknya simetris dan terdapat pada semua bidang ceiling yang telah di bagi menjadi 4 bagian. Bahan yang digunakan kayu dan ditempelkan, finishingnya menggunakan cat dengan warnanya yaitu hijau, merah, putih, biru, dan hitam. Dengan teknik sungging.

Pembagian ceiling pada pendapa ISI Surakarat dibagi menjadi 4 bagian dan masing-masing bagian terdapat hiasan motif 4 anak panah. Bentuk ceilingnya brunjung (tumpang sari dengan bahannya dari cor beton dan terdapat ukir tempel dari kayu dengan finishing melamin.

Pendapa Taman Budaya Jawa Tengah

Pendapa Taman Budaya Jawa tengah bentuk bangunannya mengadopsi joglo (rumah tradisional Jawa). Bentuk atapnya yaitu mengadopsi bentuk tajug (seperti atap masjid) yaitu lancip pada bagian atasnya. Saka guru berbahan dari cor beton, lantainya menggunakan bahan parket dan marmer. Ceiling bentuknya brunjung (tumpang sari) dengan bahan juga dari cor beton dan terdapat ornamen hias motif daun teratai yang distilir. Terdapat lampu panggung yang difungsikan untuk acara pementasan. Jenis lampunya yaitu lampu PAR, CYC, dan Zoom light. Lampu gantung dengan motif naga dengan ukuran besar diletakkan pada bagian tengah, dan juga terdapat lampu hias pada bagian samping dengan bentuknya seperti payung yang terbalik.

Fungsi pendapa ini yaitu untuk pementasan tari, karawitan, musik, pertemuan dan lain-lain

Ornamen pada umpak menggunakan motif padma (teratai merah), ornamen tiang bentuknya asimetris dengan motif ornamen bali (motif kala betutu) yang digubah. Ukiran hiasnya di tempel dengan bahannya dari kayu difinishing cat kayu warna coklat. Finishing saka guru dengan cat warna coklat dan pada tepi terdapat profil dengan finishing cat warna merah.

Blandar pada pendapa TBJT menggunakan cor beton dengan finishing cat tembok warna hitam. Pada pertemuan antara blandar dan dinding terdapat ukiran dengan motif naga, dengan finishing melamin, dan pada usuknya menggunakan finising warna hitam

Ornamen pada tumpang sari menggunakan motif daun teratai yang simetris dengan finishing diantaranya: hijau, kuning, dan merah.

Ornamen pada umpak menggunakan motif tlancapan. Ornamen pada tiang berbentuk asimetris. Ukiran hiasnya ditempel pada tiang. Finishingnya menggunakan warna coklat, finishing profil menggunakan warna merah.

Interpretasi

Pada studi kasus pendapa ISI Surakarta dan Pendapa Taman Budaya Jawa Tengah di atas, kalau dilihat sepintas memang tidak ada perbedaan yang mendasar. Dilihat dari fungsinya, kedua pendapa tersebut sama-sama digunakan untuk pertunjukkan kesenian. Telah terjadi pergeseran fungsi yang dikarenakan perkembangan zaman dan makin makanya pola fikir manusia.Apabila kita telaah lebih lanjut, ada beberapa perbedaan di kedua pendapa ini, mungkin hal tersebut dikarenakan letak/ruang lingkup ataupun status pendapa ini mencakup seberapa besar wilayah.

Pada Pendapa ISI Surakarta, benar-benar mengangkat ornamentik khas Surakarta, warna yang diangkat juga merupakan warna khas Surakarta dan warna identil dari ISI Surakarta. Pada Pendapa Taman Budaya Jawa Tengah, bukan hanya ornamen Surakarta saja yang digunakan, tetapi ornamen-ornamen daerah lainnya di Jawa Tengah juga digunakan, seperti Ornamen motif Jepara, Semarang, dan Pekalongan. Hal tersebut dikarenakan status pendapa ini menggunakan nama propinsi Jawa Tengah, ruang lingkupnya lebih luas dibandingkan pendapa ISI Surakarta yang mewakili daerah Surakarta saja. Tetapi yang disayangkan adalah adanya ornamen motif bali yang terdapat disalah satu komponen dari pendapa ini. Hal ini membuat pendapa ini kehilangan ideologinya sebagai pendapa milik Jawa Tengah.

Penutup

Pendapa adalah sebuah bangunan terbuka yang terletak di bagian depan gugusan yang pada awalnya difungsikan sebagai tempat melakukan pertemuan dan musyawarah. Bentuk bangunan yang bersifat terbuka tanpa sekat menunjukkan sifat kekeluargaan masyarakatnya dalam melakukan kegiatan. Pendapa sendiri merupakan wujud peninggalan masa Hindu yang masih bisa ditemu kenali dalam bentuk kekinian. Hal ini merupakan pengadopsian dari bentuk candi, sedangkan candi sendiri merupakan wujud perkembangan punden berundak pada zaman prasejarah akhir.

Pada perkembangannya terjadi pergeseran fungsi pendapa, hal ini disesuaikan dengan perkembangan zaman yang ada. Pendapa sudah tidak lagi berfungsi sebagai tempat pertemuan ataupun melakukan musyawarah saja, juga sebagai tempat melakukan pertunjukan. Hal ini dapat dilihat pada penggunaan lighting dan sound system yang menunjang pementasan seni pertunjukan.

Pada studi kasus pendapa ISI Surakarta dan Pendapa Taman Budaya Jawa Tengah di atas, kalau dilihat sepintas memang tidak ada perbedaan yang mendasar. Dilihat dari fungsinya, kedua pendapa tersebut sama-sama digunakan untuk pertunjukkan kesenian. Telah terjadi pergeseran fungsi yang dikarenakan perkembangan zaman dan makin makunya pola fikir manusia.

Apabila kita telaah lebih lanjut, ada beberapa perbedaan di kedua pendapa ini, mungkin hal tersebut dikarenakan letak/ruang lingkup ataupun status pendapa ini mencakup seberapa besar wilayah.

Pada Pendapa ISI Surakarta, benar-benar mengangkat ornamentik khas Surakarta, warna yang diangkat juga merupakan warna khas Surakarta dan warna identil dari ISI Surakarta.

Pada Pendapa Taman Budaya Jawa Tengah, bukan hanya ornamen Surakarta saja yang digunakan, tetapi ornamen-ornamen daerah lainnya di Jawa Tengah juga digunakan, seperti Ornamen motif Jepara, Semarang, dan Pekalongan. Hal tersebut dikarenakan status pendapa ini menggunakan nama propinsi Jawa Tengah, ruang lingkupnya lebih luas dibandingkan pendapa ISI Surakarta yang mewakili daerah Surakarta saja. Tetapi yang disayangkan adalah adanya ornamen motif bali yang terdapat disalah satu komponen dari pendapa ini. Hal ini membuat pendapa ini kehilangan ideologinya sebagai pendapa milik Jawa Tengah.

Saran

Pergeseran Fungsi pendapa yang dahulu hanya sebagai tempat pertemuan/musyawarah saja, sekarang telah bergeser dapat dijadikan sebagai tempat pertunjukkan kesenian juga, hal ini dikarenakan zaman yang berkembang. Meskipun terjadi pergeseran fungsi, tidaklah mengurangi essensi pendapa tersebut.

Pergeseran dalam hal konstruksi dan bahan yang digunakan juga tidak membuat pendapa kehilangan karakternya. Karekter pendapa tidak hanya dilihat dari bahn ataupun konstruksinya. Ornamen dan hiasan lainnya pun membuat pendapa terkesan megah, dan kartakter itu pun haruslah menyesuaikan letak/ruang lingkup dari pendapa, sehingga ada sebuah identik/ciri khas suatu daerah yang tergambar di pendapa itu.



BOROBUDUR DI TINJAU DARI FALSAFAH, RELIGI DAN HASIL KARYA BUDAYA

Borobudur adalah nama sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Lokasi candi adalah kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Candi ini didirikan oleh para penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra.

Nama Borobudur

Banyak teori yang berusaha menjelaskan nama candi ini. Salah satunya menyatakan bahwa nama ini kemungkinan berasal dari kata Sambharabhudhara, yaitu artinya "gunung" (bhudara) di mana di lereng-lerengnya terletak teras-teras. Selain itu terdapat beberapa etimologi rakyat lainnya. Misalkan kata borobudur berasal dari ucapan "para Buddha" yang karena pergeseran bunyi menjadi borobudur. Penjelasan lain ialah bahwa nama ini berasal dari dua kata "bara" dan "beduhur". Kata bara konon berasal dari kata vihara, sementara ada pula penjelasan lain di mana bara berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya kompleks candi atau biara dan beduhur artinya ialah "tinggi", atau mengingatkan dalam bahasa Bali yang berarti "di atas". Jadi maksudnya ialah sebuah biara atau asrama yang berada di tanah tinggi.

Sejarawan J.G. de Casparis dalam disertasinya untuk mendapatkan gelar doktor pada 1950 berpendapat bahwa Borobudur adalah tempat pemujaan. Berdasarkan prasasti Karangtengah dan Kahulunan, Casparis memperkirakan, pendiri Borobudur adalah raja dari dinasti Syailendra bernama Samaratungga sekitar 824 M. Bangunan raksasa itu baru dapat diselesaikan pada masa putrinya, Ratu Pramudawardhani. Pembangunan Borobudur diperkirakan memakan waktu setengah abad.(Wikipedia Indonesia ;2007)

Struktur Borobudur

Candi Borobudur berbentuk punden berundak, yang terdiri dari enam tingkat berbentuk bujur sangkar, tiga tingkat berbentuk bundar melingkar dan sebuah stupa utama sebagai puncaknya. Selain itu tersebar di semua tingkat-tingkatannya beberapa stupa.

Borobudur yang bertingkat sepuluh menggambarkan secara jelas filsafat mazhab Mahayana. bagaikan sebuah kitab, Borobudur menggambarkan sepuluh tingkatan Bodhisattva yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi Buddha.

Bagian kaki Borobudur melambangkan Kamadhatu, yaitu dunia yang masih dikuasai oleh kama atau "nafsu rendah". Bagian ini sebagian besar tertutup oleh tumpukan batu yang diduga dibuat untuk memperkuat konstruksi candi. Pada bagian yang tertutup struktur tambahan ini terdapat 120 panel cerita Kammawibhangga. Sebagian kecil struktur tambahan itu disisihkan sehingga orang masih dapat melihat relief pada bagian ini.

Empat lantai dengan dinding berelief di atasnya oleh para ahli dinamakan Rupadhatu. Lantainya berbentuk persegi. Rupadhatu adalah dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk. Tingkatan ini melambangkan alam antara yakni, antara alam bawah dan alam atas. Pada bagian Rupadhatu ini patung-patung Buddha terdapat pada ceruk-ceruk dinding di atas ballustrade atau selasar.

Mulai lantai kelima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief. Tingkatan ini dinamakan Arupadhatu (yang berarti tidak berupa atau tidak berwujud). Denah lantai berbentuk lingkaran. Tingkatan ini melambangkan alam atas, di mana manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai nirwana. Patung-patung Buddha ditempatkan di dalam stupa yang ditutup berlubang-lubang seperti dalam kurungan. Dari luar patung-patung itu masih tampak samar-samar.

Tingkatan tertinggi yang menggambarkan ketiadaan wujud dilambangkan berupa stupa yang terbesar dan tertinggi. Stupa digambarkan polos tanpa lubang-lubang. Di dalam stupa terbesar ini, diduga dulu ada sebuah patung penggambaran Adibuddha. Patung yang diduga berasal dari stupa terbesar ini kini diletakkan dalam sebuah museum arkeologi, beberapa ratus meter dari candi Borobudur. Patung ini dikenal dengan nama unfinished Buddha.

Di masa lalu, beberapa patung Buddha bersama dengan 30 batu dengan relief, dua patung singa, beberapa batu berbentuk kala, tangga dan gerbang dikirimkan kepada Raja Thailand, Chulalongkorn yang mengunjungi Hindia Belanda (kini Indonesia) pada tahun 1896 sebagai hadiah dari pemerintah Hindia Belanda ketika itu.

Borobudur tidak memiliki ruang-ruang pemujaan seperti candi-candi lain. Yang ada ialah lorong-lorong panjang yang merupakan jalan sempit. Lorong-lorong dibatasi dinding mengelilingi candi tingkat demi tingkat. Di lorong-lorong inilah umat Buddha diperkirakan melakukan upacara berjalan kaki mengelilingi candi ke arah kanan. Bentuk bangunan tanpa ruangan dan struktur bertingkat-tingkat ini diduga merupakan perkembangan dari bentuk punden berundak, yang merupakan bentuk arsitektur asli dari masa prasejarah Indonesia.

Struktur Borobudur bila dilihat dari atas membentuk struktur mandala.

Relief

Di setiap tingkatan dipahat relief-relief pada dinding candi. Relief-relief ini dibaca sesuai arah jarum jam atau disebut mapradaksina dalam bahasa Jawa Kuna yang berasal dari bahasa Sansekerta daksina yang artinya ialah timur. Relief-relief ini bermacam-macam isi ceritanya, antara lain ada relief-relief tentang wiracarita Ramayana. Ada pula relief-relief cerita jātaka.

Pembacaan cerita-cerita relief ini senantiasa dimulai, dan berakhir pada pintu gerbang sisi timur disetiap tingkatnya, mulainya disebelah kiri dan berakhir disebelah kanan pintu gerbang itu. Maka secara nyata bahwa sebelah timur adalah tangga naik yang sesungguhnya (utama) dan menuju puncak candi, artinya bahwa candi menghadap ke timur meskipun sisi-sisi lainnya serupa benar.

Adapun susunan dan pembagian relief cerita pada dinding dan langkan candi , adalah sbb :

Bagan Relief

Tingkat

Posisi/letak

Cerita Relief

Jumlah Pigura

Kaki candi asli

-----

Karmawibhangga

160 pigura

Tingkat I

- dinding

a. Latitawistara

120 pigura

-------

- -----

b. jataka/awadana

120 pigura

-------

- langkan

a. jataka/awadana

372 pigura

-------

- -----

b. jataka/awadana

128 pigura

Tingkat II

- dinding

Gandawyuha

128 pigura

--------

- langkan

jataka/awadana

100 pigura

Tingkat III

- dinding

Gandawyuha

88 pigura

--------

- langkan

Gandawyuha

88 pigura

Tingkat IV

- dinding

Gandawyuha

84 pigura

--------

- langkan

Gandawyuha

72 pigura

--------

Jumlah

--------

1460 pigura

Secara runtutan , maka cerita pada relief candi secara ringkat bermakna sebagai berikut :

Salah satu ukiran Karmawibhangga di dinding candi Borobudur (lantai 0 sudut tenggara)

Sesuai dengan makna simbolis pada kaki candi, relief yang menghiasi dinding batur yang terselubung tersebut, menggambarkan hukum karma. Deretan relief tersebut bukan merupakan cerita seri ( serial ), tetapi pada setiap pigura menggambarkan suatu cerita yang mempunyai korelasi sebab akibat. Relief tersebut tidak saja memberi gambaran terhadap perbuatan tercela manusia disertai dengan hukuman yang akan diperolehnya, tetapi juga perbuatan baik manusia dan pahala. Secara keseluruhan merupakan penggambaran kehidupan manusia dalam lingkaran lahir - hidup - mati (samsara) yang tidak pernah berakhir, dan oleh agama Buddha rantai tersebutlah yang akan diakhiri untuk menuju kesempurnaan.

Merupakan penggambaran riwayat Sang Buddha dalam deretan relief-relief (tetapi bukan merupakan riwayat yang lengkap ) yang dimulai dari turunnya Sang Buddha dari sorga Tusita, dan berakhir dengan wejangan pertama di Taman Rusa dekat kota Banaras. Relief ini berderet dari tangga pada sisi sebelah selatan, setelah melampui deretan relief sebanyak 27 pigura yang dimulai dari tangga sisi timur. Ke 27 pigura tersebut menggambarkan kesibukan, baik di sorga maupun di dunia, sebagai persiapan untuk menyambut hadirnya penjelmaan terakhir Sang Bodhisattwa selaku calon Buddha. Relief tersebut menggambarkan lahirnya Sang Buddha di arcapada ini sebagai Pangeran Siddhartha, putra Raja Suddhodana dan Permaisuri Maya dari Negeri Kapilawastu. Relief tersebut berjumlah 120 pigura, yang berakhir dengan wejangan pertama, yang secara simbolis dinyatakan sebagai Pemutaran Roda Dharma, ajaran Sang Buddha di sebut dharma yang juga berarti "hukum" ,sedangkan dharma dilambangkan sebagai roda.

Jataka dan Awadana

Jataka adalah cerita tentang Sang Buddha sebelum dilahirkan sebagai Pangeran Siddharta. Isinya merupakan pokok penonjolan perbuatan baik, yang membedakan Sang Bodhisattwa dari mahluk lain manapun juga. Sesungguhnya, pengumpulan jasa / perbuatan baik merupakan tahapan persiapan dalam usaha menuju keringkat ke buddha an.

Sedangkan Awadana, pada dasarnya hampir sama dengan Jataka akan tetapi pelakunya bukan Sang Bodhisattwa, melainkan orang lain dan ceritanya dihimpun dalam kitab Diwyawadana yang berarti perbuatan mulia kedewaan, dan kitab Awadanasataka atau seratus cerita Awadana. Pada relief candi Borobudur jataka dan awadana, diperlakukan sama, artinya keduanya terdapat dalam deretan yang sama tanpa dibedakan. Himpunan yang paling terkenal dari kehidupan Sang Bodhisattwa adalah Jatakamala atau untaian cerita Jataka, karya penyair Aryasura dan jang hidup dalam abad ke-4 Masehi.

Gandawyuha

Merupakan deretan relief menghiasi dinding lorong ke 2,adalah cerita Sudhana yang berkelana tanpa mengenal lelah dalam usahanya mencari Pengetahuan Tertinggi tentang Kebenaran Sejati oleh Sudhana. Penggambarannya dalam 460 pigura didasarkan pada kitab suci Buddha Mahayana yang berjudul Gandawyuha, dan untuk bagian penutupnya berdasarkan cerita kitab lainnya yaitu Bhadracari.

Tahapan pembangunan Borobudur

· Tahap pertama

Masa pembangunan Borobudur tidak diketahui pasti (diperkirakan antara 750 dan 850 M). Pada awalnya dibangun tata susun bertingkat. Sepertinya dirancang sebagai piramida berundak. tetapi kemudian diubah. Sebagai bukti ada tata susun yang dibongkar.

· Tahap kedua

Pondasi Borobudur diperlebar, ditambah dengan dua undak persegi dan satu undak lingkaran yang langsung diberikan stupa induk besar.

· Tahap ketiga

Undak atas lingkaran dengan stupa induk besar dibongkar dan dihilangkan dan diganti tiga undak lingkaran. Stupa-stupa dibangun pada puncak undak-undak ini dengan satu stupa besar di tengahnya.

· Tahap keempat

Ada perubahan kecil seperti pembuatan relief perubahan tangga dan lengkung atas pintu. ( Wikipedia Ensiklopedia Indonesia)

Yantra dan Mandala pada Candi Borobudur

Merujuk pada judul tugas ini, pada uraian di bawah ini adalah penjelasan tentang Candi Borobudur di tinjau dari falsafah dan religi.

Kata yantra berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti alat atau sarana; dan secara lebih khusus digunakan untuk menyebut alat yang digunakan oleh para yogi atau brahmana untuk bermeditasi. Dalam beberapa hal, yantra juga dianggap sebagai wadah atau tempat bagi istana dewata. Secara lebih spesifik lagi, kata yantra yang berasal dari akar kata “yam” juga berarti mendukung, menopang, atau menyokong kekuatan-kekuatan yang melekat pada suatu unsur, objek, atau konsep. Oleh karena sifatnya itu, maka pada hakekatnya yantra itu memiliki tiga unsur utama, yaitu unsur bentuk (akriti-rupa), unsur fungsi (kriya-rupa), dan unsur kekuatan (çakti-rupa). Di sisi lain, oleh karena yantra juga dianggap sebagai tempat kedudukan atau wadah bagi Istadewata maka yantra itu juga merupakan wujud pengganti dari dewa utama yang tidak digambarkan dalam bentuknya secara antropomorfis.

Bangunan Candi Borobudur yang memiliki 9 teras atau tingkatan merupakan salah satu contoh Çri-Yantra. Bangunan ini didirikan pada pondasi persegi dengan empat pintu masuk. Masuk (gapura pintu masuk) serta lima tembok keliling di masing-masing terasnya serta tiga teras lagi yang melingkar dan dipenuhi dengan arca-arca Buddha. Akhirnya pada tingkat yang kesembilan yang merupakan mahkotanya memiliki stupa induk yang merupakan kekuasaan dari Buddha tertinggi. Çri Yantra sendiri pada dasarnya memiliki tiga dimensi, sebagaimana halnya dengan gunung yang berteras-teras. Baik antara Yantra dan Stupa memiliki kesamaan skema kosmologis, yaitu menggambarkan dunia gunung mistis, yaitu Gunung Meru. Untuk memahami secara utuh gambaran tentang Borobudur maka harus dipahami melalui Çri Yantra.

Teras-teras yang ada di Borobudur itu sendiri juga dapat dianggap sebagai tingkatan-tingkatan perjalanan jiwa dalam mencapai kesempurnaan.

Di dalam stupa seolah-olah digambarkan perjalanan dimulai dari bawah dengan keempat pintunya, selanjutnya makin naik melingkar menyerupai spiral hingga mencapai tingkatan yang kosong, seolah-olah berkembang dari dunia keberadaan menuju dunia jiwa. Hal ini sangat sesuai dengan perjalanan sadhaka dari dunia material menuju dunia spiritual selama menyelenggarakan meditasi Çri Yantra.

Dalam kaitannya dengan arsitektur, suatu yantra bukanlah merupakan denah (ground-plan) untuk suatu candi, melainkan skema dasar tentang denah-denah suci dalam pembangunan suatu candi yang harus dipenuhi. Dasar anggapan ini terutama karena dimensi serta ukuran arsitektur kuil atau candi dianggap sebagai hal yang sifatnya spesifik dan oleh karenanya maka diperlukan aturan-aturan yang sifatnya ritual dalam rangka menyusun kerangka dasarnya.

Oleh karena sifatnya yang sakral itu maka pembangunan suatu candi atau kuil harus benar-benar mengikuti aturan yang ditentukan dalam agama dan tidak boleh diubah secara semena-mena atau sekehendak hati pembuatnya.

Secara sederhana kata mandala dapat dipahami sebagai konfigurasi kosmis yang menggambarkan ploting kedudukan dewa-dewa secara hierarkis. Pada mulanya, konfigurasi bentuk mandala itu berkembang dari bentuk persegi yang mewakili keempat penjuru mata angin, selanjutnya berkembang menjadi bentuk segi delapan, dua belas, tigapuluh dua, dan seterusnya, sehingga membentuk diagram-diagram tertentu. Dari sejumlah besar titik sudut itu maka bagian tengah merupakan bagian yang paling penting karena menjadi tempat kedudukan arca utama atau simbol lain yang menggantikan arca itu. Titik-titik di bagian luarnya secara melingkar dan mengelilingi titik tengah tadi merupakan tempat kedudukan dewa-dewa lain yang lebih rendah.

Secara sistematis dan hierarkis, struktur dan hubungan antara dewa yang satu dengan yang lain, baik yang setingkat maupun yang tidak setingkat, baik secara vertikal maupun horisontal, secara keseluruhan saling terkait satu sama lain. Secara integral, konfigurasi dari dewa-dewa itu dapat digunakan sebagai sarana untuk meditasi dan di dalam ritual dapat berfungsi sebagai wadah bagi dewa-dewa itu.

Untuk membedakan antara yantra dan mandala itu sendiri dapat dilihat melalui penggambaran dewa-dewa atau simbol-simbol tentang dewa itu. Di dalam mandala, umumnya, dewa-dewa itu digambarkan dalam wujud yang sangat raya dan lengkap hingga ke bagian-bagian detailnya.

Sesuai dengan fungsinya di atas, yaitu sebagai sarana meditasi atau sebagai wadah dari dewa-dewa maka suatu mandala setidak-tidaknya dapat dibedakan dalam beberapa tipe bentuk apakah ia berfungsi sementara ataukah ia berfungsi permanen.

Suatu mandala dapat diwujudkan dalam bentuk gambar atau lukisan, dapat terbuat dari bahan-bahan yang bersifat plastis, seperti pasir, nasi, atau mentega. Namun, juga dapat diwujudkan dalam bentuk komposisi sejumlah arca perunggu dan dalam bentuk suatu bangunan. Pada awal mulanya, kata mandala hanya berasosiasi dengan bangunan suci atau tempat suci yang berkembang pada zaman Weda. Namun, dalam perkembangannya kemudian kata mandala itu berkembang dan digunakan untuk menunjuk bentuk, gejala, ataupun aktivitas yang cenderung berpola melingkar.

Kata-kata seperti candramandala (lingkaran orbit bulan), suryamandala (lingkaran orbit matahari), dan mandala-nrtya (menari melingkar), mandala-nyasa (gambar lingkaran), mandalasana (duduk melingkar), serta mendalanabhi (pusat lingkaran) sering dijumpai dalam literatur Weda. Secara keseluruhan, kata-kata itu menyimbolkan kosmos, keutuhan, atau integrasi bagian secara keseluruhan.

Dalam perkembangan berikutnya, kata mandala yang semula berarti lingkaran kemudian mengalami adaptasi perkembangan bentuk lebih lanjut menjadi persegi, persegi panjang, segitiga, dan sebagainya. Namun, dari bentuk-bentuk itu yang dianggap paling penting adalah bagian yang paling tengah karena dianggap memiliki inti kekuatan mistis yang mampu memberikan atau menyebarkan kekuatan itu ke seluruh penjuru mata angin.

Berdasarkan uraian tentang bentuk dan perkembangannya itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa secara umum kata mandala setidak-tidaknya memiliki sejumlah pengertian:

1. Sesuatu yang bersifat bulat, seperti bulan, matahari, nampan, atau roda.

2. Sebuah distrik, provinsi, atau negara; atau secara ringkas merupakan suatu lingkaran wilayah kekuasaan dengan seluruh bawahannya yang terlibat dalam hubungan politik dan diplomatik.

3. Kumpulan orang banyak, masyarakat, dan kelompok.

4. Suatu kosmogram yang digunakan dalam agama Buddha Tantris untuk meditasi dan atau meditasi baik dalam bentuk lukisan maupun sesuatu yang memiliki bentuk tiga dimensi, baik yang berbentuk persegi maupun lingkaran dan secara hierarkis posisi di bagian tengah merupakan tempat yang paling suci.

Secara konseptual berdasarkan bentuk dan fungsinya, suatu mandala juga dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, a.l.:

1. Mahadatumandala (representasi piktorial dewa-dewa)

2. Samayamandala (representasi tentang dewa-dewa yang hanya diwujudkan dalam bentuk atributnya)

3. Bija-mandala (gambaran dewa-dewa yang hanya diwujudkan dalam bentuk huruf-huruf bija atau sekumpulan tulisan-tulisan nagari)

4. Karma-mandala (representasi yang menggambarkan dewa-dewa dalam bentuk berbagai sikap atau gerak dan diwujudkan dalam berbagai bentuk mudra atau simbol).

Seperti uraian di atas maka Candi Borobudur adalah bangunan yang mencerminkan bentuk mandala yang termasyur selain Candi Sewu.

Menurut penelitian Lokesh Chandra, Borobudur merupakan gambaran atau bentuk dari Vajradhatu Mandala yang berkembang dalam aliran Yoga Tantra dan bangunan ini merupakan bagian yang integral dari tiga serangkai, yaitu Candi Mendut dan Candi Pawon. ( Shadows of Prambanan )

Arsitektur Candi Borobudur sebagai Hasil Karya dan Bagan Kebudayaan

Beberapa batasan tentang arsitektur di antaranya:

1. Arsitektur adalah pemikiran yang matang dalam pembentukan ruang. Pembaharuan arsitektur secara menerus adalah disebabkan perubahan konsep ruang.

2. Arsitektur adalah penataan beberapa massa yang dengan hebat, tepat dan baik sekali digabungkan bersama dalam cahaya.

3. Bentuk dan ruang adalah bukan. Arsitektur terjadi hanya bila seseorang sedang menikmati/mengalami bentuk dan ruang tersebut.

4. Arsitektur adalah:

a. Seni atau ilmu bangunan, termasuk perencanaan, konstruksi dan penyelesaian dekoratif;

b. Sifat karakter atau langgam bangunan;

c. Kegiatan atau proses membangun bangunan;

d. Bangunan-bangunan; dan

e. Sekelompok bangunan.

Kalau kita ingin kembali pada kaidah semula, berarti arsitektur akan sealu memasalahkan konsepruangdanmassabangunan, karena bagaimanapun juga keduanya akan selalu berkaitan. Meskipun pada kenyataannya kedua konsep tersebut selalu menjadi pertentangan para arsitek waktu itu. Pemikiran ruang pun sudah ada sejak filsuf Lao Tzu dan Plato. Lao Tzu bertitik tolak dari dasar filsafat TAO (The way of becoming) menekankan, “yang tiada itu, adalah yang utama dalam membuat sesuatu bentuk nyata”, sedangkan Plato mendasarkan filsafatnya pada kenyataan bahwa “hanya sesuatu yang dapat diraba yang dianggap nyata”.

Kalau kita simak ini hanyalah merupakan perbedaan pendapat antara filsafat Timur dan Barat, hanya untuk arsitektur Barat banyak ditekankan pada tata massa bangunannya, sedangkan arsitektur Timur banyak ditekankan pada tata ruangnya. Dari sejarah filsafatnyapun sudah nampak jelas perbedaan sikap terhadap alam. Barat melawan atau menguasai alam sedang Timur adalah kesatuan dan harmoni dengan alam. Hal inipun juga didukung oleh pendapat To Thi Anh yang menyatakan bahwa, “Seni lukis dan arsitektur dapat berbicara lantang mengenai para Taois akan harmoni dengan alam. Kuil-kuil, rumah tidak didirikan terpisah dari pemandangan alam. Mereka menempel dikaki bukit, di bawah pohon, menyatu dengan lingkungan. Beberapa menara pagoda dengan atapnya yang melengkung sangat harmonis dengan alam sekitar”. Kita dapat mengatakan bahwa wadah arsitekturpun telah dipikirkan sebelum mereka membangun, hakekat alam diceriterakan sebagai manifestasi dari kehidupan manusia. Arsitektur merupakan satu metafora yang di pandang sebagai mikrokosmos, sedangkan dunia fisik mencerminkan dunia keabadian.(Antariksa :Solid I;11;1987)

Arsitektur membuat makna-makna yang nyata dalam penyelesaian ungkapannya, baik dari dalam keluar maupun dari luar ke dalam. Berpedoman pada aturan-aturan yang tersusun sebagai elemen-elemen, yang ditempuh di antara bumi dan langit memberikan porsi tersendiri untuk mengungkapkan dirinya. Arsitektur selalu menampilkan aspek-aspek proporsi, keindahan, massa, ruang, warna, bidang, garis, kedalaman, kesatuan, dan sebagainya dalam pengembangannya. Kalau kita memahami seluruh aspek-aspeknya, pastilah arsitektur akan menyinggung seni bangunan karena pada waktu itu arsitektur masih dianggap sebagai seni. Tetapi yang terpenting dari hal tersebut adalah, ke arah mana dan ke mana semua seni bangunan dikembangkan. Dalam arti yang luas arsitektur memang dapat dilihat secara demikian, tetapi arsitektur tidak dapat dimengerti secara baik tanpa kaitan dengan sejarah. Sejarah merupakan unsur dasar bagi arsitektur, bukan sebagai kekuatan fisik bangunan yang menakutkan, namun sebagai satu unsur yang sangat dinamis yang dapat mempengaruhi dan membentuk kelestarian lingkungan. Sepanjang sejarah arsitektur selalu merefleksikan wujud fisiknya yang dipakukan oleh umus-rumus ilmu pengetahuan dalam perjalanannya.

Pada dasarnya arsitektur (bangunan) mempunyai fungsi utama dan sekunder. Bukan berarti perbedaan ini mempunyai arti yang besar di dalam bangunan tersebut, tetapi kedua hal itu harus merupakan satu keseimbangan. Fungsi banyak memegang peran di dalam perkembangan arsitektur, oleh karena penilaian arsitektural sering dan banyak dilakukan melalui fungsi arsitekturalnya. Namun arsitektur sebaiknya tidak hanya dapat memberikan konotasi sesuatu ideologi fungsi tertentu, tetapi juga harus dapat memberikan konotasi yang lainnya. Di dalam perjalanan kedua fungsi ini dapat mengalami penambahan maupun pengurangan, dan hal itu memang biasa dalam perkembangan satu bentuk pada umumnya. Sebagai contoh suatu perubahan fungsi yang disebabkan pergantian generasi ke generasi berikutnya, maupun karena suatu perjalanan sejarahnya dapat dilihat sebagai berikut:

1. a. Fungsi utama hilang. b. Fungsi sekunder tetap.

Contohnya: peninggalan beberapa candi, fungsi utamanya sebagai tempat ibadah sudah hilang tetapi konotasi simbolik dari candi tersebut masih ada.

2. a. Fungsi utama tetap. b. Fungsi sekunder hilang.

Contohnya: lampu antik, tidak lagi digunakan sebagai lampu minyak tetapi sebagai unsur estetik dalam ruang.

3. a. Fungsi utama hilang. b. Fungsi sekunder hilang.

Contohnya: piramida, tidak lagi menjadi makam. Simbol astrologi dan geometrik sebagai konotasi efektifitas Mesir kuno sudah hilang tapi diganti dengan fungsi obyek turis.

Jika hal tersebut di atas kita lanjutkan lagi maka masih banyak kemungkinan lagi yang dapat ditemukan. Begitupula mengenai konotasi akan dapat membuka berbagai penilaian mengenai arsitektur.

Di bawah ini, dijelaskan oleh Ir. Antariksa, M. Eng., Phd, dalam Arsitektur dan Kebudayaannya, Sebuah Telaah Filosofis, bahwa berpangkal pada teori informasi Van Peursen melihat kebudayaan sebagai siasat manusia menghadapi hari depan, maka dapat berarti juga bahwa kebudayaan merupakan ceritera tentang perubahan-perubahan riwayat manusia yang selalu memberi wujud baru kepada pola-pola kebudayaan yang sudah ada. Irama perjalanan kehidupan kita yang makin cepat tentu saja mempengaruhi perubahan tersebut, satu kebudayaan yang dapat menggambarkan perkembangan dari jaman dulu ke hari depan. Dengan melukiskan perkembangan kebudayaan dapat diperoleh keterangan mengapa kebudayaan mempunyai wujud seperti sekarang ini. Koentjaraningrat memberikan batasan tentang wujud kebudayaan sebagai berikut:

1. Wujud kebudayaan sebagai satu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya;

2. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitet kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat; dan

3. Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.

Maka arsitektur dapat diletakkan pada wujud kebudayaan sebagai benda fisik hasil karya manusia. Meskipun sebenarnya kalau kita urutkan arsitektur akan mencakup ketiga wujud kebudayaan tersebut di atas. Pada bagian lain Herman Sorgel (1918), mengimplikasikan konsep pemikiran kebudayaan pada transformasi fisik perencanaan arsitektur, dan mencoba membedakan kebudayaan sebagai berikut:

1. Filosofi atau filsafat dihubungkan dengan jalan pikiran.

2. Kepercayaan yang di hubungkan dengan jiwa

3. Seni, dihubungkan dengan perasaan.

Arsitektur sebagai salah satu hasil karya budaya, dapat dijadikan petunjuk bagi perkembangan budaya suatu bangsa. Maka kebudayaan menyangkut sekelompok manusia yang memiliki susunan nilai-nilai dan kepercayaan tentang gambaran suatu dunia, yang mewujudkan sesuatu yang ideal. Parmono Atmadi mengatakan, perkembangan arsitektur masa lampau yang tidak ditemukan keterangannya melalui tulisan yang otentik, hanya dapat ditelusuri melalui penelitian. Apakah itu berupa pengaruh kepercayaan, budaya ataupun politik, dan memang kalau kita lihat perkembangan arsitektur pada umumnya tercermin pada bangunan-bangunan peninggalan. Hal ini pun dapat terlihat pada bangunan candi Borobudur (Budha) mempunyai ciri atau karakter sendiri. Mungkin kalau kita simak lagi lebih dalam akan kembali pada konsep massa (candi) yang berkembang sesuai adat, kebudayaan serta kondisi lingkungan pada waktu itu. Konon menurut ceritera arsitek dari Borobudur adalah Gunadharma, kini dia beristirahat dipuncak pegunungan Menoreh sambil mengawasi candi ciptaannya dari abad ke abad. Sebagai candi Budha, Borobudur mempunyai tiga lingkungan fisik yang sesuai dengan pencerminan alam semesta, yaitu Kamadhatu: tempat manusia masih terbelenggu hawa nafsu (keserakahan) duniawi; Rupadhatu: tempat manusia telah membinasakan keinginannya akan tetapi masih terikat oleh faham (pengertian) dari dunia berwujud; Arupadhatu: tempat manusia setelah memperoleh kesempurnaan, kemudian dibebaskan sama sekali dari segala ikatan keduniawian.

Tiga lapisan candi ini dapat di identikkan juga dengan bunga teratai, selain dikenal sebagai cara duduk meditatif Sidharta Budha Gautama-disebut posisi padma- juga merupakan perlambang ajaran Budha. Hasil temuan dari Jogya Heritage Society, yang dikemukakan oleh ketuanya Laretna T. Adhisakti bahwa ketika kita melihat Borobudur dari Tuk Setumbu yang terletak di sisi barat Candi Borobudur saat matahari terbit, kita akan melihat Candi Borobudur ibarat teratai dengan awan dan kabut yang mengelilinginya laksana air, sedangkan Gunung Merapi dan Merbabu menjadi latarnya.

Teratai adalah bunga yang memiliki akar di lumpur melambangkan fase fase kehidupan materialistis, berikutnya ada di air merujuk pada pengalaman hidup, dan kelopak dan mahkota bunga diatas permukaan air menyongsong matahari menggambarkan jiwa yang tercerahkan.

Amiluhur Soeroso, dosen geografi pascasarjana UGM, mendukung pendapat Laretna. Menurut dia, pembangunan Borobudur menggabungkan lanskap alam dan budaya. "Borobudur yang dikelilingi delapan gunung merupakan satu kesatuan kosmis yang berpusat di bukit Borobudur," katanya. Kesembilan gunung itu menjadi angka istimewa bermakna filosofis tinggi: setelah hitungan sembilan, kembali ke nol. "Jadi, sembilan ini sebagai jalan menuju titik nol, yaitu pencerahan," tuturnya.

Inilah suatu pencerminan “harmonic proportion” dari nilai religi dalam suatu wujud fisik yang ditampilkan secara sakral dan mempunyai nilai filosofis cukup dalam, yang meungkin mempunyai daya magis tersendiri.

Inilah suatu mata rantai arsitektur yang sangat panjang ditilik dari falsafah, religi dan hasil karya budaya yang merupakan peradaban suatu bangsa. Seperti hasil kebudayaan dalam bentuk lain yang senantiasa meniti garis sejarahnya sendiri, maka arsitektur pun akan demikian. Pada sisi yang lain suatu nilai sejarah yang patut untuk kita ketahui adalah “Visvakarman”, merupakan warisan utama dari sebuah kebudayaan yang berasal dari India, tetapi nilai-nili identitas sebagai simbol-simbol arsitektur masih nampak terlihat. Visvakarman merupakan arsitek dari alam semesta, mereka terdiri dari empat kelompok, antara lain: (1) Staphati, ahli bangunan; (2) Sutra-grahin, tukang gambar; (3) Vardhaki, perencana; dan (4) Tashaka, tukang kayu. Arsitektur di sana diatur oleh Vasthu Purusha Mandala, di mana Mandala mengarahkan bentuk, Purusha memasalahkan insan dan, Vasthu melihat berbagai aspek masalah yang tersangkut dalam bangunan. Bali mempunyai Hasta Kosala Kosali, sedangkan masyarakat Bugis atau Makasar menamakan para arsitek sebagai Panrita Balla, di sini arsitek didudukkan sebagai pendeta pada peresmian sebuah rumah tradisional. Pada hakekatnya pembagian fungsi sudah dicanangkan waktu itu dan sudah digariskan sejak awal untuk dikagumi oleh pihak yang mengerti, karena arsitektur dan unsur-unsurnya selalu berkembang. Berkembang dalam perencanaan dan perancangan demikian juga pada fungsinya, dan akan mencakup bidang sosial-ekonomi, kebudayaan-seni dan kerekayasaan.

Seperti uraian di atas bahwa peradaban sering dikenali dari pencapaian arsitekturnya. Borobudur adalah salah satunya. Sebab candi itu sudah memenuhi syarat Vitruvius, arsitek Romawi kuno pada abad ke-20 SM, tentang sebuah mahakarya arsitektur ; tak lekang dimakan zaman, punya fungsi dan indah.

Kesimpulan :

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Borobudur, sarat dengan makna, mahakarya seni bangunan masa kebudayaan Budha yang mengungkap tentang kesatuan manusia dalam sebuah tatanan hidup. Borobudur harus dipahami sebagai lanskap budaya bukan sekedar dari bentuk fisiknya saja.

DAFTAR PUSTAKA

Antariksa, Ir, M. Eng, Phd. (1987). Arsitektur dan Kebudayaannya. Sebuah Telaah Filosofi; Solid 1.

CN, Heru. LN, Indayanie. (2007). Borobudur, Teratai di Tengah Danau; Tempo Jakarta.

Dumarclay, Jacques. (1990). An Architecture of The Universe; Borobudur Prayer in the Stone, Archipelago Press, Singapore.

Ensiklopedi Wikipedia. (). Borobudur; Wikipedia Indonesia.

Grolier International (2002). Agama : Indonesia Heritage : Buku Antar Bangsa. Jakarta.

Grolier International (2002). Arsitektur : Indonesia Heritage : Buku Antar Bangsa. Jakarta.

Grolier International (2002). Seni Rupa : Indonesia Heritage : Buku Antar Bangsa. Jakarta.

Grolier International. (2002). Sejarah Awal; Indonesia Heritage : Buku Antar Bangsa. Jakarta.

Holt, Claire. (2000). Melacak Jejak Perkembangan Seni di Indonesia; Ithaca New York; Cornel University Press.

Kaelan. (1959). Petunjuk Candi Mendut, Pawon, Borobudur; Jawatan Kebudayaan Cabang Bagian Bahasa; Dep. P.P dan K. Yogyakarta.

Moertjipto, Drs & Prasetyo, Bambang, Drs. (1993). Borobudur, Pawon dan Mendut. Kanisius. Yogyakarta.

Soeroso. (1998/1999). Jantra dan Mandala dalam Arsitektur Candi; Berhala Arkeologi Sangkhakala, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Medan.