KRITIK PERBANDINGAN PENDAPA
(Studi Kasus Pendapa ISI Surakarta dan Pendapa Taman Budaya Jawa Tengah)
Pendopo dalam ejaan bahasa Indonesia yaitu pendapa yang berarti rumah bagian muka, dapat pula diartikan balai (ruang) besar empat berapat dan sebagainya. Sama halnya yang terdapat di dalam buku Arsitektur terbitan Indonesia Heritage, Pendapa adalah sebuah bangunan terbuka yang terletak di bagian depan gugusan.
Pendapa pada awalnya difungsikan sebagai tempat melakukan pertemuan dan musyawarah. Bentuk bangunan yang bersifat terbuka tanpa sekat menunjukkan sifat kekeluargaan masyarakatnya dalam melakukan kegiatan. Pendapa sendiri merupakan wujud peninggalan masa Hindu yang masih bisa ditemu kenali dalam bentuk kekinian. Hal ini merupakan pengadopsian dari bentuk candi, sedangkan candi sendiri merupakan wujud perkembangan punden berundak pada zaman prasejarah akhir.
Fungsi pendapa pada awalnya dijadikan sebagai wadah masyarakat dalam melakukan pertemuan ataupun musyawarah. Akan tetapi pada perkembangannya terjadi pergeseran fungsi, hal ini disesuaikan dengan perkembangan zaman yang ada. Pendapa sudah tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat pertemuan ataupun melakukan musyawarah saja, tetapi juga sebagai tempat melakukan pertunjukan. Fenomena ini dapat dari fungsi pendapa ISI Surakarta dan Pendapa Taman Budaya Jawa Tengah.
Selain dari fungsinya, perkembangan pendapa juga terlihat dari bahan bangunan dan konstruksi yang dipakai. Berikut adalah studi kasus, membandingkan kedua pendapa tersebut, mengkritisi keganjalan yang ada, menganalisanya dengan pendekatan-pendekatan teori keindahan, lalu menginterpretasikan pendapat dan saran guna mencapai essensi pendapa yang sebenarnya. Analisi ini terfokus pada ornamen pada saka guru di kedua pendapa itu.
Pendapa Institut Seni Indonesia Surakarta
Pendapa Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta bentuknya mengadopsi bentuk Joglo Rumah Tradisional Jawa, yaitu terdapat saka guru dengan umpak, ceiling tumpang sari (brujung), ornamen hias dan tiang pendukung lainnya.
Bahan yang digunakan untuk pendirian pendapa ini kebanyakan menggunakan bahan-bahan modern seperti cor beton untuk saka guru dan kontruksinya.
Fungsi pendapa ini digunakan untuk acara pementasan tari, karawitan, ketoprak, acara resepsi pengantin, pertemuan, dan lain-lain. Elemen pengisi ruang pada pendapa ini yaitu seperangkat gamelan, sketsel pada bagian belakang dan juga terdapat lampu yang digunakan untuk pementasan. Bentuk atap pendapa ini mengadopsi bentuk Joglo yaitu dari depan terlihat seperti bentuk trapesium. Lantai menggunakan parket dan teraso ukuran 40x40 cm. ada perbedaan level lantai, yaitu pada bagian tengah dan samnpingnya.
Saka guru pada pendapa ISI menggunakan bahan dari beton dengan finishing cat tembok warna merah hati, dan terdapat ukiran tempel dari kayu dengan gaya Surakarta di finishing melamin, pada umpaknya terdapat motif padma (teratai merah) dengan menggunakan bahan cor beton difinishing dengan cat tembok warna hitam.
Ornamen yang digunakan juga sama pada bagian bawahnya, tetapi posisinya dibalik. Terdapat motif wajikan pada profil bagian atas, dan juga terdapat bubutan dari kayu dengan finishing melamin.
Motif hiasan pada ceiling pendapa ini menggunakan motif 4 anak panah yang telah distilir, bentuknya simetris dan terdapat pada semua bidang ceiling yang telah di bagi menjadi 4 bagian. Bahan yang digunakan kayu dan ditempelkan, finishingnya menggunakan cat dengan warnanya yaitu hijau, merah, putih, biru, dan hitam. Dengan teknik sungging.
Pembagian ceiling pada pendapa ISI Surakarat dibagi menjadi 4 bagian dan masing-masing bagian terdapat hiasan motif 4 anak panah. Bentuk ceilingnya brunjung (tumpang sari dengan bahannya dari cor beton dan terdapat ukir tempel dari kayu dengan finishing melamin.
Pendapa Taman Budaya Jawa Tengah
Pendapa Taman Budaya Jawa tengah bentuk bangunannya mengadopsi joglo (rumah tradisional Jawa). Bentuk atapnya yaitu mengadopsi bentuk tajug (seperti atap masjid) yaitu lancip pada bagian atasnya. Saka guru berbahan dari cor beton, lantainya menggunakan bahan parket dan marmer. Ceiling bentuknya brunjung (tumpang sari) dengan bahan juga dari cor beton dan terdapat ornamen hias motif daun teratai yang distilir. Terdapat lampu panggung yang difungsikan untuk acara pementasan. Jenis lampunya yaitu lampu PAR, CYC, dan Zoom light. Lampu gantung dengan motif naga dengan ukuran besar diletakkan pada bagian tengah, dan juga terdapat lampu hias pada bagian samping dengan bentuknya seperti payung yang terbalik.
Fungsi pendapa ini yaitu untuk pementasan tari, karawitan, musik, pertemuan dan lain-lain
Ornamen pada umpak menggunakan motif padma (teratai merah), ornamen tiang bentuknya asimetris dengan motif ornamen bali (motif kala betutu) yang digubah. Ukiran hiasnya di tempel dengan bahannya dari kayu difinishing cat kayu warna coklat. Finishing saka guru dengan cat warna coklat dan pada tepi terdapat profil dengan finishing cat warna merah.
Blandar pada pendapa TBJT menggunakan cor beton dengan finishing cat tembok warna hitam. Pada pertemuan antara blandar dan dinding terdapat ukiran dengan motif naga, dengan finishing melamin, dan pada usuknya menggunakan finising warna hitam
Ornamen pada tumpang sari menggunakan motif daun teratai yang simetris dengan finishing diantaranya: hijau, kuning, dan merah.
Ornamen pada umpak menggunakan motif tlancapan. Ornamen pada tiang berbentuk asimetris. Ukiran hiasnya ditempel pada tiang. Finishingnya menggunakan warna coklat, finishing profil menggunakan warna merah.
Interpretasi
Pada studi kasus pendapa ISI Surakarta dan Pendapa Taman Budaya Jawa Tengah di atas, kalau dilihat sepintas memang tidak ada perbedaan yang mendasar. Dilihat dari fungsinya, kedua pendapa tersebut sama-sama digunakan untuk pertunjukkan kesenian. Telah terjadi pergeseran fungsi yang dikarenakan perkembangan zaman dan makin makanya pola fikir manusia.Apabila kita telaah lebih lanjut, ada beberapa perbedaan di kedua pendapa ini, mungkin hal tersebut dikarenakan letak/ruang lingkup ataupun status pendapa ini mencakup seberapa besar wilayah.
Pada Pendapa ISI Surakarta, benar-benar mengangkat ornamentik khas Surakarta, warna yang diangkat juga merupakan warna khas Surakarta dan warna identil dari ISI Surakarta. Pada Pendapa Taman Budaya Jawa Tengah, bukan hanya ornamen Surakarta saja yang digunakan, tetapi ornamen-ornamen daerah lainnya di Jawa Tengah juga digunakan, seperti Ornamen motif Jepara, Semarang, dan Pekalongan. Hal tersebut dikarenakan status pendapa ini menggunakan nama propinsi Jawa Tengah, ruang lingkupnya lebih luas dibandingkan pendapa ISI Surakarta yang mewakili daerah Surakarta saja. Tetapi yang disayangkan adalah adanya ornamen motif bali yang terdapat disalah satu komponen dari pendapa ini. Hal ini membuat pendapa ini kehilangan ideologinya sebagai pendapa milik Jawa Tengah.
Penutup
Pendapa adalah sebuah bangunan terbuka yang terletak di bagian depan gugusan yang pada awalnya difungsikan sebagai tempat melakukan pertemuan dan musyawarah. Bentuk bangunan yang bersifat terbuka tanpa sekat menunjukkan sifat kekeluargaan masyarakatnya dalam melakukan kegiatan. Pendapa sendiri merupakan wujud peninggalan masa Hindu yang masih bisa ditemu kenali dalam bentuk kekinian. Hal ini merupakan pengadopsian dari bentuk candi, sedangkan candi sendiri merupakan wujud perkembangan punden berundak pada zaman prasejarah akhir.
Pada perkembangannya terjadi pergeseran fungsi pendapa, hal ini disesuaikan dengan perkembangan zaman yang ada. Pendapa sudah tidak lagi berfungsi sebagai tempat pertemuan ataupun melakukan musyawarah saja, juga sebagai tempat melakukan pertunjukan. Hal ini dapat dilihat pada penggunaan lighting dan sound system yang menunjang pementasan seni pertunjukan.
Pada studi kasus pendapa ISI Surakarta dan Pendapa Taman Budaya Jawa Tengah di atas, kalau dilihat sepintas memang tidak ada perbedaan yang mendasar. Dilihat dari fungsinya, kedua pendapa tersebut sama-sama digunakan untuk pertunjukkan kesenian. Telah terjadi pergeseran fungsi yang dikarenakan perkembangan zaman dan makin makunya pola fikir manusia.
Apabila kita telaah lebih lanjut, ada beberapa perbedaan di kedua pendapa ini, mungkin hal tersebut dikarenakan letak/ruang lingkup ataupun status pendapa ini mencakup seberapa besar wilayah.
Pada Pendapa ISI Surakarta, benar-benar mengangkat ornamentik khas Surakarta, warna yang diangkat juga merupakan warna khas Surakarta dan warna identil dari ISI Surakarta.
Pada Pendapa Taman Budaya Jawa Tengah, bukan hanya ornamen Surakarta saja yang digunakan, tetapi ornamen-ornamen daerah lainnya di Jawa Tengah juga digunakan, seperti Ornamen motif Jepara, Semarang, dan Pekalongan. Hal tersebut dikarenakan status pendapa ini menggunakan nama propinsi Jawa Tengah, ruang lingkupnya lebih luas dibandingkan pendapa ISI Surakarta yang mewakili daerah Surakarta saja. Tetapi yang disayangkan adalah adanya ornamen motif bali yang terdapat disalah satu komponen dari pendapa ini. Hal ini membuat pendapa ini kehilangan ideologinya sebagai pendapa milik Jawa Tengah.
Saran
Pergeseran Fungsi pendapa yang dahulu hanya sebagai tempat pertemuan/musyawarah saja, sekarang telah bergeser dapat dijadikan sebagai tempat pertunjukkan kesenian juga, hal ini dikarenakan zaman yang berkembang. Meskipun terjadi pergeseran fungsi, tidaklah mengurangi essensi pendapa tersebut.
Pergeseran dalam hal konstruksi dan bahan yang digunakan juga tidak membuat pendapa kehilangan karakternya. Karekter pendapa tidak hanya dilihat dari bahn ataupun konstruksinya. Ornamen dan hiasan lainnya pun membuat pendapa terkesan megah, dan kartakter itu pun haruslah menyesuaikan letak/ruang lingkup dari pendapa, sehingga ada sebuah identik/ciri khas suatu daerah yang tergambar di pendapa itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentarmu sungguh berarti bagiku