KRITIK PUBLIC SPACE “RESTORAN STEAK LESEHAN”
(Studi Kasus Restoran Rasa Mirasa dan Restoran Mas Mbong)
Restoran adalah suatu tempat/bangunan yang diorganisasikan secara komersil yang menyilang gerakan pelayanan dengan baik kepada semua tamunya baik berupa makanan maupun minuman (Marsum W, 1989:7). Hampir sama dengan pendapat di atas, dalam buku pengantar Ilmu perhotelan dan restoran dijelaskan bahwa, restoran adalah suatu industri yang terbatas yaitu industri yang melayani makanan dan minuman kepada semua orang yang jauh dari rumahnya maupun yang dekat dari rumahnya. Dari kedua pendapat tersebut di atas tentang restoran, dapat disimpulkan bahwa restoran adalah suatu wadah untuk melakukan transaksi jual beli berupa makanan dan minuman, dan bisa juga sebagai sarana untuk mendapatkan hiburan kepada semua orang yang membutuhkan yang dikelola secara profesional dan terorganisir. Pengertian di atas, kita bisa menarik fungsi restoran secara umum yaitu sebagai wadah kegiatan untuk menyediakan aneka makanan dan minuman yang juga sekaligus sebagai tempat untuk mendapatkan hiburan karena telah didukung suasana yang tercipta dari penataan interiornya.
Ada empat spesifikasi jenis restoran, jenis restoran menurut pelayanannya, jenis restoran yang berdasarkan menu makanannya, jenis restoran berdasarkan pengelolaannya, dan jenis restoran menurut besar bangunannya. Dalam hal ini, membandingkan dua restoran yang memiliki kesamaan jenis yaitu berdasarkan jenis makanan dan sistem pelayanannya dengan studi kasus di dua restoran yang terdapat di Surakarta, yaitu Restoran Rasa Mirasa di daerah Pabelan dan Restoran Mas Mbong di dekat Istana Mangkunegara. Kedua restoran ini memiliki spesifikasi yang sejenis, sama-sama menyediakan menu makanan dan minuman yang beranekan ragam, tidak khusus sejenis makanan saja. Lalu sistem pelayanannya, sama-sama memakai sistem pelayanan table service, ada yang lesehan maupun menggunakan kursi. Meski keduanya sama, pasti ada keunggulan masing-masing yang tidak dimiliki yang lainnya.
Restoran Rasa Mirasa
Restoran umum yang menyediakan menu makanan dan minuman beraneka ragam, terletak di jalan Raya Solo Kartosura km.8, Pabelan, Sukoharjo.
Sama halnya dengan restoran lainnya, Rasa Mirasa merupakan suatu wadah untuk melakukan transaksi jual beli yang berupa makanan dan minuman yang bisa juga sebagai sarana mendapatkan hiburan kepada para pengunjung yang dikelola secara profesional dan terorganisir. Jenis pelayanan di restoran ini menggunakan sistem pelayanan service table, pengunjung langsung menuju meja makan yang mana dibagi menjadi dua tempat, ruang makan dalam yang menggunakan meja dan kursi, dan ruang makan taman (gazebo) yang hanya menggunakan meja saja dan duduk lesehan di atas tirai bambu atau tikar. Pengunjung memesan makanan dan minuman berdasarkan menu yang ada, lalu makanan diantar oleh pramusaji ke tempat pengunjung duduk. Selesai makan, pengunjung bayar di kasir yang terdapat di pintu keluar pengunjung.
Karena banyaknya ruang yang terdapat di restoran itu, kita hanya akan membahas ruang makan taman yang disebut gazebo. Gazebo pada restoran Rasa Mirasa ini menggunakan atap limasan, dengan bahan atap dari genting dan konstruksi utama bambu. Inilah keunikan dari Restoran Rasa Mirasa, bahwa bahan utama dan kontruksi utamanya menggunakan bambu, sampai tiang utamanya pun menggunakan bambu. Hal ini yang membuat Restoran Rasa Mirasa terkesan tradisi namun megah, mengangkat kebudayaan Jawa dan Sunda (yang terlihat dari bentuk atap dan konsep furniturenya) dan segmentasi pasarnya kalangan menengah ke atas.
Ceiling pada gazebo juga menggunakan bahan bambu, yaitu anyaman bambu guna menutupi atap genting agar tidak terlihat dari dalam dan serbuk genting tidak mengotori area dalam gazebo. Tapi, meski ditutup menggunakan anyaman bambu, konstruksi utama atap yang terbuat dari bambu pula tadi tidak ikut ditutup (diekspos). Faktor keindahan sangat di utamakan disini, selain faktor pelayanan yang paling ditonjolkan, karena memang visi utama restoran ini menyediakan makanan dan minuman serta tempat untuk menikmatinya bagi pengunjung.
Unsur pembentuk ruang yang lainnya adalah lantai dan dinding. Pada gazebo, dinding yang dipakai menggunakan bahan yang sama dengan bahan yang dipakai untuk ceiling, yaitu anyaman bambu atau orang Jawa menyebutnya gedhek. Gedhek dipasang separuh, dan separuh bagian lain sengaja dibuat terbuka, agar pengunjung dapat menikmati taman sekitar gazebo, dan inilah essensi dari ruang makan taman ini. Selain agar pengunjung dapat menikmati alam sekitar, hal ini juga berguna untuk penghawaan, penghawaan alami yang sesuai konsep awal restoran tersebut yaitu kembali ke alam, semua bahan yang digunakan berbau-bau tradisi dan alami. Di gedhek terdapat motif-motif wajik dengan repetisi yang cantik, membesar dan mengecil, membuat gedhek terlihat lebih hidup, dinamis, dan tidak kaku.
Lantai di gazebo ini menggunakan lantai keramik dengan ukuran 30 x 30 cm, lalu ditutup dengan karpet berwarna hijau. Warna bambu dan unsur kayu yang alami membuat suasana netral dan terkesan hangat, belum lagi bahan karpet yang menambahnya semakin nyaman. Dan suasana pun semakin harmonis, lantai keramik dan warna hijau tumbuhan serta karpet menambah suasana makin menyenangkan, benar-benar perpaduan unsur dan warna yang membuat pengunjung merasa nyaman di dalamya.
Restoran Mas Mbong
Restoran yang mengutamakan menu dan rasa makanan-minuman yang khas ini terletak di jalan Ronggowarsito 83 Mangkunegara, Surakarta.
Berangkat dari penetapan Pura Mangkunegaran sebagai cagar budaya dan sebagai salah satu lokasi wisata kuliner, ”Mas Mbong” Steak dan Resto yang bergerak dalam bisnis kuliner berdiri dengan memanfaatkan bangunan bagian Pura Mangkunegaran. Dalam pengamatan di lapangan, banyak hal di Restoran Mas Mbong yang seharusnya dioptimalkan sehingga dapat menjadikan value added dalam berbisnis, misalnya penataan ruang dan unsur pembentuk ruangnya yang terkesan hanya tempelan yang dipaksakan. Aksesoris interiornya oun juga hanya terkesan main-main tanpa mempertimbangkan nilai estetis maupun fungsinya. Di dunia interior ada ungkpaan shape follow function yang sebenarnya dalam hal ini mengajarkan bagaimana menata ruang sesuai dengan bentuk, tema global serta fungsinya.
Restoran ini terletak pada lingkungan Pura Mangkunegaran. Hal ini berpengaruh pada arsitektur/interior restoran ini, dengan melihat bentuk rumah tradisioanl joglo. Dalam interiornya, terdapat empat tiang utama yang berbahan kayu jati sebagai saka guru, empat tiang tambahan pada area ruang makan belakang.
Membandingkan dengan restoran rasa mirasa pada pembahasannya di atas, dalam pembahasan ini difokuskan pada area pengunjungnya saja, ruang makan dalam yang terbagi menjadi dua bagian yaitu ruang makan yang menggunakan kursi (baik kursi yang mempunyai sandaran maupun tidak) dan ruang makan yang hanya menggunakan bancik dengan konsep lesehan.
Dilihat dari unsur pembentuk ruangnya, ceiling terbuat dari kayu reng jati yang ditutup anyaman bambu. Untuk membatasi area dalam dan luar, dindingnya terbuat dari plesteran dengan cat putih, dan untuk membatasi area dalamnya, dinding hanya terbuat dari bahan bambu yang dianyam (Gedhek yang bermotif). Ukiran pada pintu, jendela dan fentilasi ruangan menjadikan rumah makan ini terkesan ketradisian. Unsur pembentuk ruang yang lain, yaitu lantai yang terbuat dari keramik berwarna putih polos.
Ditinjau dari jenis bangunannya, rumah makan ini memiliki konsep tradisi. Bangunan ini termasuk kelas sederhana tetapi fasilitas di dalamnya dibuat untuk kalangan menengah ke bawah, seperti kalangan pelajar, kantoran dan masyarakat umum. Sistem pelayanannya, pengunjung yang datang mencari tempat duduk sendiri. Setelah itu, pelayan datang menyajikan menu makanan dan mencatat pesanannya. Setelah makan, pengunjung membayarnya di kasir di area pintu keluar restoran.
Sama halnya dengan restoran lainnya, Mas Mbong merupakan suatu wadah untuk melakukan transaksi jual beli yang berupa makanan dan minuman yang bisa juga sebagai sarana mendapatkan hiburan kepada para pengunjung yang dikelola secara profesional dan terorganisir pula, ssama seprti restoran Rasa Mirasa. Tetapi Mas Mbong mempunyai visi dan misi tersendiri, yaitu kehadiran restotan ini dilandasi oleh pemahaman mendalam tentang kebutuhan masyarakat akan hidangan yang baik, yang merupakan perpaduan resep yang khas yang tak henti ditingkatkan kualitasnya dan kebersihannya serta nilai gizi tinggi yang senantiasa dijaga. Restoran ini memiliki misi untuk mengangkatkan daya tarik pengunjung dengan cara mengutamakan rasa dari menu makanan dan juga mengutamakan pengunjung sebagai raja.
Analisis Formal dan Interpretasi
Mencoba memasukkan beberapa teori tentang keindahan untuk menganalisis pembentuk ruang dan pengisi ruang dari karya yang dideskripsikan di atas. Kita ambil teori Monroe Beardsley dalam Problems in the philosophy of Critism yang menjelaskan adanya tiga ciri yang menjadi sifat-sifat membuat baik (indah) dari benda-benda estetis pada umumnya. Ketiga ciri termaksud adalah:
1. Kesatuan (unity), ini berarti bahwa benda estetis ini tersusun secara baik atau sempurna bentuknya.
2. Kerumitan (complexity), Benda estetis atau karya seni yang bersangkutan tidak sederhana sekali, melainkan karya akan isi maupun unsur-unsur yang saling berlawanan ataupun mengandung perbedaan-perbedaan yang halus.
3. Kesungguhan (intensity), Suatu benda estetis yang baik harus mempunyai suatu kualitas tertentu menonjol dan bukan sekedar sesuatu yang kosong. Tak menjadi soal kualitas apa yang dikandungnya.
Ada keterkaitannya dengan teori Monroe, De Witt H. Parker dalam teori bentuk estetiknya mengungkapkan ada enam asas, yaitu: the principle of organic unity (asas kesatuan/utuh), the principle of theme (asas tema), the principle of thematic variation (asas variasi menurut tema), the principle of balance (asas keseimbangan), the principle of evolution (asas perkembangan), dan the principle of hierarchy (asas tata jenjang).
Pada dasarnya kedua restoran tersebut telah memenuhi kriteria keindahan yang Monroe dan Parker maksud. Penggunaan bahan yang menjadi unsur pembentuk ruang di kedua restoran tersebut membentuk satu-kesatuan yang utuh, serasi dan selaras. Pengangkatan unsur tradisi dan bahan pun benar-benar tradisional menjadikan perancangan kedua restoran tersebut telah menyentuh complexity. Kedua hal tersebut membuktikan bahwa desainer bersungguh-sungguh memasukkan unsur keindahan di dalam kedua restoran tersebut.
Penutup
Restoran adalah suatu wadah untuk melakukan transaksi jual beli berupa makanan dan minuman, dan bisa juga sebagai sarana untuk mendapatkan hiburan kepada semua orang yang membutuhkan yang dikelola secara profesional dan terorganisir. Dari pengertian ini kita bisa menarik fungsi restoran secara umum yaitu sebagai wadah kegiatan untuk menyediakan aneka makanan dan minuman yang juga sekaligus sebagai tempat untuk mendapatkan hiburan karena telah didukung suasana yang tercipta dari penataan interiornya.
Dua restoran di atas mempunyai kesamaan dalam hal jenis restorannya. Jenis restoran berdasarkan menu makanan yang beraneka ragam maupun jenis pelayanan yang table service. Dari kesamaan tersebut terdapat perbedaaan yang mendasar, dari segmentasi pasar maupun interiornya. Membandingkan kedua restoran ini dengan maksud mencari keganjalan yang terjadi di lapangan, yang tidak sesuai dengan essensi dari sebuah restoran pada umumnya dengan menggunakan teori desain dan keindahan juga. menganalisinya, lalu menginterpretasikan pendapat maupun saran.
Teori Monroe Beardsley dalam Problems in the philosophy of Critism yang menjelaskan adanya tiga ciri yang menjadi sifat-sifat membuat baik (indah) dari benda-benda estetis pada umumnya. Ketiga ciri termaksud adalah:Kesatuan (unity), ini berarti bahwa benda estetis ini tersusun secara baik atau sempurna bentuknya, Kerumitan (complexity), Benda estetis atau karya seni yang bersangkutan tidak sederhana sekali, melainkan karya akan isi maupun unsur-unsur yang saling berlawanan ataupun mengandung perbedaan-perbedaan yang halus, Kesungguhan (intensity), Suatu benda estetis yang baik harus mempunyai suatu kualitas tertentu menonjol dan bukan sekedar sesuatu yang kosong. Tak menjadi soal kualitas apa yang dikandungnya.
Pada dasarnya kedua restoran tersebut telah memenuhi kriteria keindahan yang Monroe dan Parker maksud. Penggunaan bahan yang menjadi unsur pembentuk ruang di kedua restoran tersebut membentuk satu-kesatuan yang utuh, serasi dan selaras. Pengangkatan unsur tradisi dan bahan pun benar-benar tradisional menjadikan perancangan kedua restoran tersebut telah menyentuh complexity. Kedua hal tersebut membuktikan bahwa desainer bersungguh-sungguh memasukkan unsur keindahan di dalam kedua restoran tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentarmu sungguh berarti bagiku