Halaman

Banner

Banner
Promosi Website

ARSITEKTUR/INTERIOR PALEMBANG

Arsitektur tradisional Palembang terbagi menjadi dua bagian secara global, yaitu menurut bentuknya dan menurut fungsinya. Adapun arsitektur tradisional Palembang menurut fungsinya terbagi lagi menjadi empat, yaitu rumah tempat tinggal, rumah ibadah, rumah tempat musyawarah, rumah tempat menyimpan. Arsitektur tradisional Palembang menurut bentuknya pun dibagi lagi, dibagi menjadi tiga, yaitu rumah limas, rumah rakit, rumah gudang.

Rumah Limas merupakan salah satu yang cukup terkenal di antara berbagai bentuk rumah tradisional yang dijumpai di Sumatera Selatan. Terkenal karena corak, bentuk dan kepadatan seni ukir di dalamnya yang disertai dengan kemilauannya warna cat warna perado emas yang didatangkan khusus dari Negeri Siam, serta penataan ruang yang mencerminkan tingginya tingkatan budaya suku bangsa yang memilikinya. Rumah ini dikatakan rumah Limas karena bentuk atapnya yang menyerupai piramida terpenggal. Dilihat dari samping, rumah ini terdiri dari atas tiga atau lima bagian, masing-masing adalah bagian depan, tengah dan belakang.

Arti rumah di sini lebih luas dari pada sekedar suatu tempat untuk bernaung dan berlindung dari panas dan hujan. Hampir semua kegiatan sosial kemasyarakatan dilakukan di dalamnya mulai dari interaksi keluarga, hubungan suami-istri, menerima tamu, sebagai tempat musyawarah antarsanak famili dan handai taulan, sampai pada upacara hajatan seperti mencukurkan anak, menikahkan serta pada saat kematian. Oleh Karena itu, layak dikatakan bahwa rumah limas merupakan tempat tinggal yang multifungsi. Selanjutnya bila melihat bentuk atap rumah limas, mirip seperti joglo yang terpenggal, dan apabila ditinjau dari segi filosofisnya mencerminkan manusia sebagai ciptaan Tuhan (bukan lagi manusia sebagai jelmaan Dewa), seperti pada masa sebelum Islam masuk. Jadi, pengaruh Islam telah ada, hal ini nampak pula pada omamen maupun ukiran yang tidak lagi menggambarkan hewan tetapi melukiskan bunga dan daun. Selanjutnya disebutkan bahwa rumah tradisional limas adalah rumah adat yang pada mulanya hanya dihuni oleh para pemimpin atau golongan bangsawan (priyayi). Mengingat besarnya biaya untuk mendirikan rumah itu, dapat diduga bahwa tidak setiap warga dapat memilikinya. Hanya mereka yang berasal dari golongan rakyat atau priyayi yang mampu saja yang dapat membangun rumah Limas.

3.1.1. Typologi

3.1.1.1. Rumah Tempat Tinggal

3.1.1.1.1. Rumah Limas

Digolongkan kepada golongan rurnah panggung artinya rumah yang mempunyai tiang. Untuk bahan bangunan rurnah tempat tinggal ini biasanya dipilih jenis kayu yang bermutu baik. Sebagai contoh misalnya kayu jenis petanang, yang mutunya sama dengan kayu unglen atau kayu besi. Kayu ini biasanya dipergunakan untuk bahan tiang.

3.1.1.1.2. Rumah Rakit

Jika melihat dari tempat maka rumah rakit tergolong kepada bangunan tetap yang terapung.

3.1.1.1.3. Rumah Gudang

Sama halnya dengan rumah limas yaitu bangunan tersebut di­bangun di atas tiang, maka dapat kita golongkan kepada rumah jenis panggung.

Untuk bahan bangunan rumah tempat tinggal ini juga dipilih dari jenis-jenis kayu yang bermutu baik seperti kayu petanang, kayu unglen atau kayu merawan dan tembesu tua.

3.1.1.2. Rumah Tempat Ibadah

3.1.1.2.1. Masjid

Karena bangunan ini dibangun di atas tanah tanpa tiang maka dapat kits golongkan kepada jenis rumah depok.

3.1.1.2.2. Langgar

Bangunan langgar karena lebih kecil dari mesjid, maka dapat dikatakan mendirikannya tidak seberapa sukar dan biayapun tidak terlalu mahal jika dibandingkan dengan pembangunan sebuah mesjid. Karena itu bangunan tersebut dapat dibangun menurut situasi dan kondisi setempat. Sehingga langgar mem­punyai type depok dan type panggung.

3.1.1.3. Rumah Tempat Musyawarah

Karena rumah tempat musyawarah ini dibangun di atas tiang maka jenis bangunan ini disebut panggung. Atap bangunan ini pada umumnya lebih mirip dengan piramida. Bentuk kap demikian terdapat pada rumah Jawa, disebut kenyen atau Rumah Limasan Empjak Setangkep. Tetapi ada juga yang menggunakan kap seperti kap Rumah Cara Gudang atau opitur.

3.1.1.4. Rumah Tempat Menyimpan

Karena gudang tersebut dibangun tanpa tiang maka dapat kita golongkan pada bangunan jenis depok, sedangkan tempat menyimpan rakit gudang termasuk bangunan tetap yang terapung.

3.1.2. Bentuk Bagian-bagian

3.1.2.1. Rumah Tempat Tinggal

3.1.2.1.1. Rumah Limas

Seperti telah dijelaskan di atas tadi bahwa lantai dari bangunan rumah ini berundak dan setiap undakan berbentuk empat persegi panjang pula. Perlu kami jelaskan di sini mengapa kekijing ini kami bicarakan terdahulu karena setiap bagian dari bangunan tersebut mempunyai kekijing, jadi merupakan bagian yang selalu ada dalam setiap keterangan, baik bagian muka, tengah maupun bagian belakang.

3.1.2.1.2. Rumah Rakit

Bentuk bangunan rumah tempat tinggal yang bernama rumah rakit ini sederhana sekali jika dibandingkan dengan baik rumah limas maupun rumah cara gudang. Bahan-bahannya juga adalah bahan-bahan yang cukup sederhana.

3.1.2.1.3. Rumah Gudang

- Ruang depan, termasuk tangga dan garang serta beranda.

- Ruang Tengah, termasuk ruangan utama dengan luas, sekitar 28 meter bujur sangkar. Pada kiri-kanan ruangan ini terdapat jendela.

- Ruang Belakang, terdiri dari kamar dan dapur serta ruang dalam.

3.1.2.2. Rumah Tempat Ibadah

3.1.1.2.1. Masjid

Bangunan mesjid tersebut diusahakan agar berbentuk bujur sangkar. Pada umumnya mesjid hanya dibagi menjadi dua bagian saja. Tetapi ada kalanya terpaksa dibagi tiga, walaupun pem­bagian yang ketiga ini hanya untuk sementara saja, artinya pada sewaktu-waktu dapat dibuang kembali. Pembagian yang tidak seimbang ini merupakan suatu ketentuan di mana bagian yang kecil khusus untuk imam dan ruangan ter­sebut dinamakan mihrob Sedangkan bagian kedua yaitu bagian yang luas untuk para jemaah atau makmum. Sedangkan bagian yang lain adalah tempat mengumandangkan azan, yang berbentuk menara.

3.1.1.2.2. Langgar

Pada umumnya ukuran yang dipakai dalam membangun langgar ini seluas 12 meter sampai 20 meter bujur sangkar. Berbeda dengan rumah ibadah mesjid mengenai tempat azan, maka pada bangunan langgar ini tempat tersebut tidak ada, jadi bila akan mengumandangkan azan cukup di dalam ruangan itu raja.

3.1.2.3. Rumah Tempat Musyawarah

Balai yang terdapat pada suku bangsa Palembang ini, pada umumnya berbentuk empat persegi panjang dengan luas sekitar 150 meter sampai 200 meter bujur sangkar. Pada typologi telah disebutkan bahwa rumah tempat musyawarah ini dibangun di atas tiang, tetapi perlu diketahui bahwa tinggi tiang yang dipakai tersebut antara 40 cm sampai 60 cm saja. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi peserta atau pengunjung yang tidak kebagian tempat untuk masuk ke dalam ruangan tempat musyawarah. Balai adalah tempat umum dan dibangun agar siapa saja dapat menyaksikan segala macam upa­cara.

3.1.2.4. Rumah Tempat Menyimpan

Pada rumah tempat menyimpan yang disebut gudang biasa­nya mempunyai pintu dua buah. Yang pertama pintu untuk masuk sedangkan yang sebuah lagi dipergunakan sebagai pintu keluarnya. Bentuk atap baik pada bangunan gudang maupun pada rakit gudang adalah lipat kajang atau atap rumah cara gudang

3.1.3. Susunan Ruangan

3.1.3.1. Rumah Tempat Tinggal

3.1.3.1.1. Rumah Limas

- Ruang depan; yaitu garang atau beranda. Pada garang inilah terdapat dua buah tangga untuk naik ke rumah limas ter­sebut. Tetapi adakalanya pada garang ini ditambah dengan ba­ngunan lain yang disebut jogan, sehingga bila kita naik kits belum langsung bertemu dengan pintu masuk, tetapi harus melalui jogan terlebih dahulu.

- Ruang tengah; yaitu ruangan yang terdiri dari beberapa kekijing. Pada setiap kekijing dilengkapi dengan dua buah jendela pada kanan-kirinya. Pada kekijing pertama dengan kekijing beri­kutnya terdapat penyekat atau kiyam. Sedangkan pada kekijing terakhir kita jumpai lemari dinding dan amben.

- Ruang belakang; yaitu bagian dapur yang juga dibagi atas 29 tiga bagian menurut fungsi. Pada dapur terdapat juga garang tetapi letaknya pada sisi rumah jadi garang ini ialah garang sam­ping.

3.1.3.1.2. Rumah Rakit

Mengenai susunan ruangan pada rumah tempat tinggal yang disebut rumah rakit ini sederhana sekali. Rumah tersebut dibagi menjadi dua bagian.

3.1.3.1.3. Rumah Gudang

Apabila kita memperhatikan denah dari rumah cara gudang maka terdapatlah susunan ruangan sebagai berikut:

- Ruang depan, yang terdiri dari tangga, garang dan beranda.

- Ruang tengah, termasuk ruang utama dari rumah cara gudang tersebut.

- Ruang belakang yang dilengkapi dengan kamar, dapur yang terbagi atas 3 bagian serta ruang dalam sebagai kamar serba guna seperti halnya dengan rumah limas.

3.1.3.2. Rumah Tempat Ibadah

3.1.1.2.1. Masjid

- Ruang pertama adalah ruangan yang kecil merupakan tempat imam yang disebut mihrob.

- Ruangan yang kedua, yaitu ruangan yang luas yang kadang­kadang diberi penyekat berupa Batas antara kaum pria dan kaum wanitanya. Batas itu biasanya berupa tabir kain.

- Ruangan yang lain adalah tempat orang mengumandangkan suara azan, yang terletak di samping bangunan induk. Sedangkan tempat orang mengambil air wuduk dibuat tempat di belakang atau di samping bangunan. Tempat inipun terdapat dua bagian yaitu tempat laki-laki dan tempat perempuan. Adakalanya dibuat beranda untuk penempatan beduk dan alas kaki.

3.1.1.2.2. Langgar

Mengenai susunan dari bangunan yang kita sebut; dengan nama langgar sama dengan susunan yang terdapat pada mesjid.

Langgar ini lazimnya hanya dipakai untuk sholat lima waktu saja serta dipergunakan untuk anak-anak belajar mengaji pada sore dan malam hari. Dan kadang-kadang langgar dipergunakan juga untuk musyawarah.

3.1.3.3. Rumah Tempat Musyawarah

Susunan secara mutlak sebenarnya pada rumah tempat musya­warah ini tidak ada, hanya saja jika terdapat kaum wanitanya maka dibuatlah sebagai pembatasnya, yaitu berupa tirai. Biasanya yang dipakai sebagai tirai tersebut adalah kain atau selendang yang disampirkan pada seutas tali.

3.1.3.4. Rumah Tempat Menyimpan

Mengenai susunan dari rumah tempat menyimpan ini baik berupa gudang maupun berupa rakit gudang pada hakekatnya lama, yaitu tidak terdapat pembagian secara khusus. Jadi barang­-barang yang dimasukkan ke dalam gudang itu tidak ada tempat khusus untuk barang-barang tertentu.

3.1.4. Fungsi Ruangan

3.1.4.1. Rumah Tempat Tinggal

3.1.4.1.1. Rumah Limas

(a) Ruangan Depan

Ruangan depan yang terdiri dari garang merupakan tempat pertama apabila kita akan memasuki rumah limas tersebut. Apabila rumah itu diberi jogan, maka kegunaan dari jogan tersebut adalah untuk beristirahat pada sore ataupun pada malam hari. Perlu diketahui bahwa jogan itu juga diberi beratap, dan juga diukir. Di samping untuk beristirahat, jogan juga dipergunakan apabila ada peralatan atau persede­kahan terutama bagi anak-anak. Mereka dapat menyaksikan segala kegiatan di dalam rumah itu dari jogan tersebut, apalagi jika ada acara keseniannya.

(b) Ruang Tengah

Ruang tengah terdiri dari beberapa kekiijing. Pada waktu ada upacara maka fungsi dari kekijing tersebut adalah sebagai berikut:

- Kekijing pertama ditempati oleh kaum kerabat, dan juga para undangan yang muda-muda.

- Kekijing kedua ditempati oleh para undangan setengah baya.

- Kekijing ketiga dan keempat ditempati oleh para undangan yang tua-tua dan orang-orang yang dihor­mati terutama karena faktor usia.

(c) Ruang Belakang

Pada ruang belakang ini terdapat tiga bagian utama yaitu:

- Pertama, tempat menyiapkan segala sesuatu yang akan dimasak atau diolah.

- Kedua, tempat memasak.

- Ruangan yang ada di bawah kotak berkaki tadi dipergu­nakan untuk menyimpan kayu api. Di atas dapur (kotak berkaki) tadi dibuat pula alat yang disebut pago, yang panjang dan lebarnya sama dengan meja dapur tadi. Ting­gi pago ini dari permukaan tempat memasak yang dilapisi tanah sekitar 80 cm. Pago ini diberi alas atau galar yang terbuat dari bambu atau papan. Pago ini gunanya adalah untuk alat pengeringan atau- penyimpanan. Di tempat ini diletakkan ikan salai, ikan asin, atau yang lainnya yang cocok untuk diawetkan dengan udara yang panas. Pada salah satu dinding dapur tersebut dibuat tempat untuk meletakkan botol-botol seperti botol kecap, botol cuka masak dan lain sebagainya yang termasuk bahan-­bahan masakan. Penempatan ini diperlukan agar mudah mengambilnya apabila diperlukan di waktu memasak. Ketiga, adalah tempat mencuci peralatan makan minum. Luas tempat ini sekitar 2 meter bujur sangkar. Lantainya terbuat dari bambu atau kayu yang tahan air.

3.1.4.1.2. Rumah Rakit

Satu bagian dipergunakan sebagai tempat tidur, sedangkan bagian yang lain dipergunakan untuk kegiatan sehari-hari. Pada bagian untuk kegiatan sehari-hari inilah dijadikan pula tempat menerima tamu.

Dapur biasanya terdapat di bagian luar (seolah-olah tempelan) pada bagian ruang tempat tidur. Tetapi ada juga dapur ini di­bangun secara khusus, dengan perlengkapan tempat memasak seperti yang terdapat pada baik rumah limas maupun pada rumah cara gudang.

3.1.4.1.3. Rumah Gudang

(a) Ruangan Depan

Ruangan depan yang terdiri dari tangga, garang dan beranda.

(b) Ruangan Tengah

Ruangan tengah ini merupakan ruang utama dari bangunan rumah cara gudang. Pada ruangan inilah jika ada upacara persedekahan tempat menerima para tamu atau undangan. Para undangan yang dianggap terhormat atau para tamu yang tua-tua ditempatkan di bagian Barat dari ruangan tersebut atau pada arch dinding bagian dalam.

(c) Ruangan Belakang

Ruang belakang ini terdiri dari sebuah kamar, dapur dan ruang dalam.

3.1.4.2. Rumah Tempat Ibadah

3.1.1.2.1. Masjid

- Ruang pertama adalah ruangan yang kecil merupakan tempat imam yang disebut mihrob.

- Ruangan yang kedua, yaitu ruangan yang luas yang kadang­kadang diberi penyekat berupa Batas antara kaum pria dan kaum wanitanya. Batas itu biasanya berupa tabir kain.

- Ruangan yang lain adalah tempat orang mengumandangkan suara azan, yang terletak di samping bangunan induk. Sedangkan tempat orang mengambil air wuduk dibuat tempat di belakang atau di samping bangunan. Tempat inipun terdapat dua bagian yaitu tempat laki-laki dan tempat perempuan. Adakalanya dibuat beranda untuk penempatan beduk dan alas kaki.

3.1.1.2.2. Langgar

Langgar ini lazimnya hanya dipakai untuk sholat lima waktu saja serta dipergunakan untuk anak-anak belajar mengaji pada sore dan malam hari. Dan kadang-kadang langgar dipergunakan juga untuk musyawarah.

3.1.4.3. Rumah Tempat Musyawarah

Sesuai dengan namanya itu tempat musyawarah, maka ke­gunaannyapun adalah tempat bermusyawarah atau merundingkan sesuatu untuk diambil suatu kesimpulan. Pemimpin dari musya­warah tersebut biasanya prang tua-tua kampung atau penguasa setempat ataupun prang-prang yang memang telah diserahi tugas dalam bidang itu.

Sedangkan bentuk yang lebih kecil seperti telah dijelaskan di atas tadi juga dijadikan tempat pertemuan, tetapi pertemuan tersebut dapat dikatakan tidak resmi. Mereka hanya datang ke tempat itu, duduk-duduk sambil beristirahat baik sore maupun pada malam hari. Saat itulah terjadinya tukar-menukar informasi yang pada saat musyawarah resmi nantinya akan diajukan pada anggota musyawarah.

3.1.4.4. Rumah Tempat Menyimpan

Mengenai susunan dari rumah tempat menyimpan ini baik berupa gudang maupun berupa rakit gudang pada hakekatnya lama, yaitu tidak terdapat pembagian secara khusus. Jadi barang­-barang yang dimasukkan ke dalam gudang itu tidak ada tempat khusus untuk barang-barang tertentu.

3.1.5. Ragam Hias

Dalam pengertian ragam hias adalah sama halnya dengan pengertiarr tentang kehidupan clan perkembangan seni ukimya. Berbicara tentang ragam hias, sepintas dapat dikatakan bertujuan untuk memperindah saja, baik dalam rumah ataupun pada tempat-tempat lainnya. Namun selain daripada berfungsi sebagai nilai estetika ia juga menampakkan identitas walaupun diolah dalam usaha penonjolan nilai-nilai tersebut.

Berdasarkan sejarah, ragam hias Palembang sudah dikenal seiak masa prasejarah. Dimana pada masa itu ditemukan tinggalan budaya yang mewuudkan sudah adanya ragam hias, yaitu dengan ditemukannya bukti-bukti arkeologis pada batuan masa neolithikum, motif-motif seni ukir (ragam hias) telah menunjukkan pada sifat monumental dan simbolis.

Sebagai bentuk ragam hias dalam karva ukir banyak dijumpai pada rumah Limas. Adanya ukiran dengan motif tumbuh-tumbuhan itu sekaligus membantu memperlihatkan kepada kira hentuk keagungan kemewahan dan kekuasaan pemiliknya. Selain itu bagi pemilik rumah sendiri, hasil seni ukir tadi mampu menumbuhkan sekaligus memuaskan perasaannya akan keindahan.

Berdasarkan teknik pengerjaannya ada dua jenis ukiran berdasar­kan teknik pengerjaannya, yaitu ukiran timbal dan terawang. Hal yang menarik pada rumah Limas kedua tipe ukiran tersebut kita temukan selalu dalam posisi simetris, artinya kiri dan kanan selalu sama.

Pewarnaaan juga dilakukan terhadap ukiran yang ada, wama-warna yang dipergunakan antara lain, kecemasan, merah hati "maroon", kuning, hitam dan wama coklat. Sebagai pelengkap dalam ukiran tersebut digunakan pula wama-wama terang, merah dan prado (emas). Warna tersebut dapat diartikan melambangkan akan kehidupan yang kaya dan makmur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentarmu sungguh berarti bagiku